Photo bareng Peserta Back to Basic Brotherhood Atevet BULLDOZER
Kegiatan-kegiatan IPALUNI Atevet BULLDOZER
Sayed Junaidi Rizaldi (PakCik),Kusumardi dan H. Arif Setiana
Kegiatan-kegiatan IPALUNI Atevet BULLDOZER
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Senin, 08 Juli 2013
Rabu, 03 Juli 2013
Ketika Amerika Serikat Tunduk Kepada Indonesia

Ketika Amerika Serikat Tunduk Kepada Indonesia
Negara digdaya itu dibikin malu Indonesia ketika pilotnya, Allen Pope ditembak jatuh di pulau Morotai. Lebih malu lagi, karena dengan tertangkapnya pilot itu, kedok AS dan CIA akhirnya terbuka.Kedok yang membuktikan AS melalui CIA sudah main api dengan petualangannya di balik pemberontakan separatisme di Indonesia.
Termasuk juga infiltrasi AS yang mempersenjatai para pemberontak itu. Ini yang bikin Bung Karno geram, dan mulai memainkan kartu trufnya.

Bung Karno dan Ike (Dwight D Eisenhower)
Inilah moment bersejarah ketika Indonesia yang miskin untuk pertama kalinya punya posisi tawar tinggi di hadapan “juragan kaya”, Amerika.
Bung Karno tidak cuma menuntut Amerika mesti minta maaf. Tapi masih ada sederet permintaan lain yang bikin Amerika “maju kena, mundur kena”.
Eisenhower minta Indonesia melepaskan pilot Allen Pope. Tapi Bung Karno tidak mau melepas begitu saja dengan gratis. Pilot itu adalah kartu truf-nya.
Inilah kisah bagaimana Bung Karno dengan amarah “memiting leher Allen Pope” sambil telunjuknya memberi isyarat agar Amerika mau bersimpuh di kaki Bung Karno (tentu saja ini hanya simbolisasi teatrikal).
Gantung Allen Pope! Hukum mati Allen Pope! Begitu gelombang protes di depan kedutaan AS di Jakarta setelah Allen Pope tertangkap. tahun 1958 itu .

Allen Pope
Di tengah suasana panas itu, teman-teman Mas Tok atau Guntur Soekarnoputra tidak berhenti menjejalinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pilot Allen Pope.
Percakapan Bung Karno dengan putra sulungnya berkaitan hal itu, sudah banyak diungkap berbagai sumber. Tapi sebetulnya ada yang lebih penting lagi di balik percakapan antara Bung Karno dan Mas Tok berikut ini…..
Bung Karno sedang mandi. Mas Tok yang masih remaja menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tidak sabar. Karena pintu terus digedor, Bung Karno melongok sebentar. “Ada apa tho Mas Tok? Bapak belum selesai mandi”.
Begitu pintu terbuka, Mas Tok langsung menyambar ayahnya dengan pertanyaan, “Bener nggak sih bapak menukar pembebasan Allen Pope dengan tebusan pesawat Hercules?”. Mas Tok memang tidak sabaran ingin segera tahu jawabnya.
Saat itu juga dia harus mendapatkan bocoran jawabannya. Memang sebelumnya di antara teman-temannya, mereka sudah kasak-kusuk membenarkan gosip itu. Mas Tok jadi panas juga. Soalnya sebagai anak Bung Karno, seharusnya dia lebih tahu dari teman-temannya.
Mas Tok yang penasaran tidak perlu menunggu lama menanti jawab ayahnya. Pertanyaan Mas Tok itu langsung disambar dengan tawa khas ayahnya. Menggelegar, “Hahahahaha……biar saja Amerika kasih Hercules itu buat Bapak. Kalau Amerika kirim pesawat lagi, nanti Bapak suruh tembak lagi. Sebagai tebusannya, Bapak minta Marilyn Monroe dan Ava Gardner”.

Marilyn Monroe
Tapi sebetulnya di balik canda itu, mungkin bahkan Bung Karno dan Mas Tok sendiri waktu itu belum menyadari sesuatu.
Yaitu buntut dari posisi tawar Indonesia tadi, Bung Karno telah memulai tonggak lahirnya sejarah armada baru bagi AURI, yaitu lahirnya skuadron Hercules di Indonesia. Armada ini kelak turut punya andil dalam merebut Irian Barat dari Belanda.
Itu semua berawal dari negosiasi tarik ulur demi pembebasan seorang pilot yang bikin Amerika gelisah. Bagaimana tidak? Soalnya kalau tidak segera diselamatkan, bisa-bisa pilot itu buka mulut tentang info rahasia yang berkaitan dengan permainan CIA.

Ava Gardner
Kedengaran kayak gosip murahan. Tapi tunggu dulu! Sejarah kadang memang diwarnai gosip murahan, yang bermuara pada hasil yang tidak murahan.
Konon itulah yang dinamakan intrik politik tingkat tinggi. Intrik yang menggunakan sisi kelemahan Bung Karno. Kelemahan apalagi kalau bukan soal perempuan? Mentang-mentang Bung Karno mata keranjang…..
Bung Karno memang mata keranjang. Tapi pihak yang anti Bung Karno kadang memanipulasi sisi ini secara berlebihan. Sama halnya CIA yang menggunakan kelemahan Don Yuan-nya Bung Karno untuk menjatuhkan kredibilitas presiden RI di mata rakyatnya.
Menjatuhkan Bung Karno adalah satu-satunya cara agar Amerika bisa bercokol kuat di Indonesia. Sudah dicoba segala cara agar Bung Karno jatuh, tidak berhasil juga. Dicoba dengan cara ancaman embargo, penghentian bantuan…..ehhh Bung Karno malah teriak, “Go to hell with your aid!”.

Go to hell with your aid!
Ketika itu TNI (pasukan marinir, pasukan gerak cepat AU, dan AD) menggempur Permesta, gerakan pemberontakan di Sulawesi Utara.
Persenjataan Permesta tidak bisa dianggap enteng. Soalnya ada bantuan senjata dari luar.
Tadinya tudingan bahwa CIA adalah biang kerok semua ini masih dugaan saja. Ketika kapal pemburu AL dan mustang AU melancarkan serangannya, satu pesawat Permesta terbakar jatuh.
Sebelum jatuh, ada dua parasut yang tampak mengembang keluar dari pesawat itu. Parasut itu tersangkut di pohon kelapa. TNI segera membekuk dua orang. Yang satu namanya Harry Rantung anggota Permesta.
Dan yang tak terduga, satunya lagi bule Amerika. Itulah si pilot Allen Pope. Dari dokumen-dokumen yang disita, terkuak Allen Pope terkait dengan operasi CIA. Yaitu menyusup di gerakan pemberontakan di Indonesia untuk menggulingkan Soekarno.
Tak pelak lagi, tuduhan bahwa Amerika dengan CIA adalah dalang pemberontakan separatis, bukan isapan jempol!
Peristiwa tertangkapnya Allen Pope adalah tamparan bagi Amerika. Itu mungkin terwakili dalam kalimat Allan Pope ketika tertangkap. Setelah pesawat B-26 yang dipilotinya jatuh dihajar mustang AU dan kapal pemburu AL, komentar Pope: “Biasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang”. Setelah itu dia masih sempat minta rokok.

B-26 Permesta kena tembak (ilustrasi)
Taktik kotor itu jadi gunjingan internasional. Tanpa ampun, kedok Amerika dengan CIA-nya berhasil dibuka Indonesia, lengkap dengan bukti-bukti telak.
Amerika terpaksa berubah 180 derajat menjadi baik pada Soekarno. Semua operasi CIA untuk mengguncang Bung Karno (untuk sementara) dihentikan.
Amerika berusaha mati-matian minta pilotnya dibebaskan. Segala cara pun mulai dilakukan untuk mengambil hati Bung Karno. Eisenhower mengundang Soekarno ke AS bulan Juni 1960.
Lalu Soekarno juga diundang John Kennedy di bulan April 1961. Di balik segala alasan diplomatik tentang kunjungan itu, tak bisa disangkal itu semua buntut dari cara Bung Karno memainkan kartunya terhadap Amerika.
Selama periode itu, Bung Karno main tarik ulur dengan pembebasan Pope. Tarik ulur itu berjalan alot. Karena Bung Karno ogah melepaskan Pope begitu saja. Bung Karno sengaja berlama-lama “memiting leher” Allan Pope sebelum Amerika meng-iya-kan permintaan Indonesia.
Amerika mati kutu. Tak ada jalan lain. Negosiasi pun segera dimulai. Negosiasi alot yang memakan waktu 4 tahun, sebelum akhirnya Allen Pope benar-benar bebas.
Dimulai dengan Ike atau Eisenhower yang membujuk, merayu dan mengundang Bung Karno ke Amerika.
Bung Karno geram. Ike (Dwight D Eisenhower) mencoba merayunya, “Tolong bebaskan pilotku”. Tapi Bung Karno tetap saja geram.
Mungkin juga karena yang merayu Soekarno adalah Ike, seorang pria tua. Ike itu adalah nama panggilan D. Dwight Eisenhower, presiden AS di masa itu. Kali ini Amerika memang kena batunya.
Namun sesudahnya Bung Karno tetap tidak mau tunduk diatur-atur Ike. Situasi mulai berubah sedikit melunak setelah kursi kepresidenan AS beralih ke John F. Kennedy.

Soekarno bersama JFK, John F Kennedy
Dengan John, negosiasi mulai mengarah ke titik terang. Berkaitan itu pula, John mengirim adiknya Robert Kennedy ke Jakarta. Robert membawa sejumlah misi, diantaranya: “bebaskan Pope”.
Konon ketika itu juga Amerika mengirim istri Allen Pope yang cantik. Perhitungannya, wanita cantik mampu meluluhkan hati Bung Karno. Ini asal mula beredar issue bahwa Bung Karno dirayu istri Allen Pope.
Yang tidak banyak disebutkan orang, yaitu ibu dan saudara perempuan Allen Pope juga datang memohon-mohon dengan tangisan minta belas kasihan Bung Karno.
Buat Bung Karno, pilot itu dibebaskan atau tidak dibebaskan, hasilnya sama saja. Yaitu tidak membuat korban-korban bom si pilot bisa hidup kembali. Jadi kenapa tidak memanfaatkan saja ketakutan Amerika yang ciut kalau pilot itu buka mulut?

Robert Kennedy dan istri (di belakang Soekarno)
Indonesia sedang bertempur melawan Belanda untuk merebut Irian Barat. Jadi butuh senjata, sejumlah perangkat perang dan armada tempur.
Permintaan Bung Karno itu tentu saja tidak disampaikan dengan cara mengemis. Tapi dengan cara yang menyeret Amerika untuk membuat interpretasi diplomatik. Mau tidak mau, isyarat diplomatik Soekarno bikin Amerika harus bisa membaca yang tersirat di balik yang tersurat.
Dibanding Ike alias Eisenhower, John Kennedy lebih peka membaca isyarat itu. Itulah yang dimaksud Bung Karno bahwa John Kennedy mengerti dirinya. Kennedy tidak cuma sekedar mengundang Bung Karno ke Amerika untuk plesiran. Tapi juga ada tindak lanjut nyata di balik undangan diplomatik itu.
John paham Indonesia butuh perangkat perang untuk merebut Irian Barat. Di antaranya armada tempur. Karena itu diajaknya Bung Karno mengunjungi pabrik pesawat Lockheed di Burbank, California. Di sana Bung Karno dibantu dalam pembelian 10 pesawat hercules tipe B, terdiri dari 8 kargo dan 2 tanker.

John F Kennedy dan Sukarno di pabrik Lockheed, Burbank, California.
Hasilnya? Hercules dari Amerika, menjadi cikal bakal lahirnya armada Hercules bagi AURI (armada yang kelak ikut bertempur merebut Irian Barat). Bung Karno bisa membuat Amerika menghentikan embargo.
Lalu menyuntik dana ke Indonesia. Juga beras 37.000 ton dan ratusan persenjataan perangkat perang. Kebutuhan itu semua memang sesuai dengan kondisi Indonesia saat itu.

Allen Pope diadili
Negosiasi itu seluruhnya tentu makan biaya yang tidak sedikit. Siapa yang mesti membayar semua itu? Konon rekening Permesta yang harus membayar ganti rugi akibat negosiasi itu.
Sempat terdengar selentingan bahwa jalan by pass Cawang-Tanjung Priok dan Hotel Indonesia lama di Bundaran HI Thamrin, adalah wujud dari ganti rugi itu. Benarkah demikian? Wallahu a’lam.
Sayang hubungan mesra Bung Karno dengan Amerika berakhir setelah Kennedy terbunuh tahun 1963 yang disinyalir dilakukan oleh CIA. Terbunuhnya Kennedy membuat CIA kembali leluasa mewujudkan mimpi lama yang sempat terhenti. Yaitu terus mengguncang kursi Bung Karno, hingga Putra Sang Fajar itu akhirnya benar-benar terbenam. Kita semua tahu bagaimana akhir episode itu. (malemminggu.wordpress)
Sumber : indocropcircles
Misteri Supersemar, Surat Perintah 11 Maret 1966
Posted by
Unknown
6:33 PM
, under
Nasional
|
No comments
Keraguan
akan keaslian naskah Supersemar yang disimpan Arsip Nasional Republik
Indonesia (ANRI) muncul setelah tumbangnya Orde Baru (Orba) pada 1998.
Keraguan publik soal otentisitas surat perintah dari Presiden Soekarno
ke Menteri Panglima Angkatan Darat, Letjen Soeharto, dikala itu semakin
diperkuat oleh beberapa saksi sejarah bekas tahanan politik Orba yang
akhirnya buka suara.
Tiga Versi Supersemar, Misteri Lebih Dari Empat Puluh Tahun
Lebih dari empat puluh tahun berlalu,
misteri Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) hingga kini belum juga
terpecahkan. Di mana naskah asli surat tersebut juga masih belum bisa
ditemukan.
Sejumlah versi proses terbitnya
Supersemar pun beredar. Entah siapa yang benar. Namun dari sejumlah
keterangan, yang tidak bisa dibantah adalah Supersemar yang disimpan di ANRI adalah palsu.
Supersemar yang disimpan di etalase arsip negara itu kini ada tiga versi versi:
Versi Pertama,
yakni surat yang berasal dari Sekretariat Negara. Surat itu terdiri
dari dua lembar, berkop Burung Garuda, diketik rapi dan di bawahnya
tertera tanda tangan beserta nama Sukarno.
Versi Kedua,
berasal dari Pusat Penerangan TNI AD. Surat ini terdiri dari satu
lembar dan juga berkop Burung Garuda. Ketikan surat versi kedua ini
tampak tidak serapi pertama, bahkan terkesan amatiran. Jika versi
pertama tertulis nama Sukarno, versi kedua tertulis nama Soekarno.
Versi Ketiga,
lebih aneh lagi. Surat yang terakhir diterima ANRI itu terdiri dari
satu lembar, tidak berkop dan hanya berupa salinan. Tanda tangan
Soekarno di versi ketiga ini juga tampak berbeda dari versi pertama dan
kedua.
Kepala ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia),
M Asichin, memastikan ketiga surat itu adalah Supersemar palsu. “Sebab,
lazimnya surat kepresidenan, seharusnya kop surat Supersemar berlambang
bintang, padi dan kapas. Bukannya Burung Garuda. Apalagi yang polosan
seperti yang terakhir,” kata Asichin di Jakarta, Sabtu (10/3/2012).
Dari segi isi, kata Asichin, beberapa
versi Supersemar tersebut relatif sama. Hanya ada perbedaan dari versi
pertama dan kedua. Surat pertama terdiri dari empat poin yakni:
I. Mengingat,
II. Menimbang,
III. Memutuskan/Memerintahkan dan
IV. Selesai.
II. Menimbang,
III. Memutuskan/Memerintahkan dan
IV. Selesai.
“Bedanya, di versi kedua tidak ada IV. Selesai,” ujar Asichin.
Benedict Anderson, pakar sejarah Indonesia asal Amerika Serikat, pernah mengatakan Supersemar asli sengaja dihilangkan. Hal itu didapatkan Anderson dari pengakuan seorang tentara yang bertugas di Istana Bogor, tempat Supersemar dibuat.
Tanpa menyebut nama dan pangkat tentara tersebut, Anderson mengatakan, Supersemar asli berkop surat Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Bukan kop surat dengan lambang Burung Garuda seperti yang ada sekarang.
Jelas keterangan ini menyudutkan
Soeharto, yang saat itu menjabat Panglima Angkatan Darat. Sebab, dengan
Supersemar berkop surat MBAD menunjukkan surat perintah itu memang
diinginkan oleh Soeharto. Apalagi, muncul versi Soekarno dipaksa oleh
beberapa jenderal utusan Soeharto untuk meneken Supersemar di bawah
todongan senjata.
Jenderal M Jusuf, salah satu petinggi AD
yang menemui Soekarno di Istana Bogor, pernah mengklaim memiliki naskah
Supersemar. ANRI pernah berkali-kali meminta keterangan kepada Menteri
Perindustrian Kabinet Dwikora itu. Namun, hingga akhir hayat M Jusuf
pada 8 September 2004, upaya itu gagal.
Pada 31 Agustus 2005, ANRI pernah
memawancarai keponakan M Jusuf, Andi Heri di Makassar. “Namun pengakuan
keluarga katanya kami tidak pernah menyimpan”, ujar Asichin.
Pada 2008, pengakuan lain dibuat oleh
Ubaydillah Thalib, putra Salim Thalib, staf intel Komando Operasi
Tertinggi Gabungan-5 (G-5 KOTI). Thalib mengatakan ayahnya, yang
meninggal 2002 lalu, pernah bercerita kepadanya bahwa Supersemar yang
ada selama ini adalah palsu.
“Teks itu tidak tersusun rapi seperti yang sekarang beredar, tapi memang diketik,” ujar Ubay saat itu.
Menurut Ubay, ayahnya sempat melihat
sekilas teks tersebut saat diperintahkan oleh Letkol Sudharmono untuk
menyimpan di ruangannya. “Tapi sayangnya yang melihat teks Supersemar
itu hanya beberapa orang,” kata Ubay.
Cek Kosong Untuk Soeharto
Soekarno memberi surat lanjutan bahwa Supersemar bersifat teknis/administratif semata, bukan politis.
Kontroversi Surat Perintah 11 Maret 1966
(Supersemar) tidak hanya seputar keberadaan (fisik) surat itu, namun
juga soal isinya. Tiga versi Supersemar yang disimpan di Arsip Nasional
Republik Indonesia (ANRI) secara isi memang sama, yakni perintah untuk
mengamankan negara. Namun, bagaimana tafsir atas isi surat tersebut?
Seperti diketahui, Supersemar telah
dijadikan alat pembenaran bagi Soeharto, si penerima, untuk memberangus
Partai Komunis Indonesia (PKI), menangkap 15 menteri yang dianggap
beraliran kiri dan loyal terhadap Presiden Soekarno serta mengawasi
pemberitaan di media massa saat itu.
Melihat langkah Soeharto itu, Soekarno
segera mengeluarkan surat lanjutan dua hari berikutnya atau 13 Maret
1966 (Wisnu: 2010). Surat yang berisi tiga poin penting ini dibawa oleh
Wakil Perdana Menteri II, Dr J Leimena, dan diserahkan kepada Soeharto.
Surat itu pada intinya mengingatkan Soeharto bahwa:
Pertama,
Supersemar bersifat teknis/administratif semata, bukan politis. Surat
semata-mata berisi perintah untuk mengamankan rakyat, pemerintah dan
presiden.
Kedua, surat juga mengingatkan pembubaran partai politik harus atas seizin presiden.
Ketiga, Soeharto diminta datang menghadap presiden untuk memberikan laporan.
Surat yang tidak banyak diketahui publik
ini akhirya tak digubris Soeharto. Semua tahu bahwa setahun setelah
penyerahan Supersemar atau 12 Maret 1967, Soeharto diangkat sebagai
Presiden menggantikan Soekarno tanpa proses pemilu.
Sejarawan Asvi Warman Adam (2009) menilai Supersemar seperti blanko cek kosong yang bisa diisi semaunya oleh Soeharto. Hal ini terlihat dalam frasa “mengambil tindakan yang dianggap perlu” dalam poin perintah pertama surat itu.
Supersemar, kata Asvi, akhirnya ditafsirkan bukan hanya sebagai perintah pengamanan, namun juga pemindahan kekuasaan (transfer of authority).
Brigjen Amir Machmud, salah satu orang dekat Soeharto, setelah melihat
surat itu menilai surat itu bernada penyerahan kekuasaan.
Menurut Asvi, seharusnya surat kepada
militer jelas batas dan jangka waktu pelaksanaannya. Poin ketiga surat
lanjutan Soekarno pada 13 Maret 1966 menunjukkan sang presiden telat
menyadari ketidakjelasan jangka waktu pelaksanaan Supersemar.
Namun keterangan Wakil Perdana Menteri I,
Soebandrio, setelah lepas dari tahanan Orde Baru, menunjukkan Sang
Pemimpin Besar Revolusi tak seceroboh itu. Menurutnya, Supersemar
terdapat frasa “setelah keadaaan terkendali, Supersemar diserahkan kembali kepada Presiden Soekarno.” Ketarangan Soebandrio itu dibenarkan oleh Pangkostrad Letjen Kemal Idris.
Kontroversi isi Supersemar ini akhirnya membuat persepsi bahwa Supersemar palsu sengaja dibuat mengarahkan ke transfer of authority. Sementara yang asli jelas merupakan perintah mengamankan negara atau delegation of authority. Ini pula yang diamini Roeslan Abdul Gani, salah satu menteri Soekarno saat itu.
Siapa yang mengetik Supersemar?
Kontroversi keberadaan (fisik) dan isi
Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) juga diikuti dengan misteri
siapa yang mengetik surat sakti itu. Namun, dari sekian lama kontroversi
bergulir, baru satu orang yang mengaku mengetik surat itu. Dia adalah
Letkol (Purn) Ali Ebram.
Saat Supersemar terbit, Ebram adalah
Asisten I Intelijen Resimen Cakrabirawa. Dia mengaku mengetik Supersemar
dengan didiktekan Presiden Soekarno. Ebram, yang tidak terbiasa
mengetik, mengaku gemetar saat menekan tombol-tombol mesin cetak itu.
Dalam ‘Kudeta Supersemar’
(Wisnu: 2010) diceritakan, Ebram mengaku dipanggil oleh bosnya Komandan
Resimen Cakrabirawa, Brigjen Sabur, untuk membawa mesin tik dan kertas
berkop kepresidenan ke paviliun Hartini, ruang pribadi presiden di
Istana Bogor. Ebram mengetik surat itu selama satu jam.
Menurut pengakuannya, di ruang lain, tiga
petinggi Angkatan Darat yakni Brigjen M Jusuf, Brigjen Amirmachmud dan
Brigjen Basuki Rahmat, sudah menunggu. Keterangan Ebram klop dengan
pengakuan Amirmachmud bahwa saat menunggu, ia melihat presiden masuk ke
kamar dalam waktu yang cukup lama.
Namun, Komandan Detasemen Kawal Pribadi
Presiden, Mangil Martowidjojo, mengatakan lain. Mangil mengatakan, sang
pengetik adalah Sabur sendiri. Dengan membawa kertas dan mesin tik, kata
Mangil, Sabur mengatakan sedang membuat surat perintah. Sabur, kata
dia, mengetik hasil koreksi Supersemar setalah Soekarno mendiskusikan
versi awal kepada tiga jenderal itu bersama dua wakil perdana menteri,
Soebandrio dan Chaerul Saleh.
Sementara itu, Soebandrio, yang mengaku
turut mengoreksi, mengaku tidak tahu siapa yang mengetik Supersemar. Dia
hanya mengetahui Supersemar diketik oleh salah satu staf di Istana
Bogor.
Sedangkan Benedict Anderson, pakar
sejarah Indonesia asal Amerika Serikat, mengatakan lain. Dari pengakuan
seorang tentara di Istana Bogor, Anderson mengatakan, Supersemar asli
berkop surat Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Keterangan ini secara
tidak langsung membantah Ebram sebagai pengetik Supersemar karena ia
mengaku mengetik surat itu di atas surat berkop kepresidenan.
Namun sayang, Anderson tidak mau mengungkapkan siapa tentara pemberi informasi tersebut, berikut pangkatnya.
Pistol di Dada Soekarno
Dada Soekarno malam itu mungkin tak
sebusung waktu ia mengatakan “ini dadaku mana dadamu” kepada Malaysia.
Dini hari, 11 Maret 1966 di Istana Bogor, pistol FN-46 itu ditodongkan
Brigjen Basuki Rachmat ke dada sang presiden. Soekarno dipaksa untuk
meneken sebuah surat di dalam map merah jambu.
Dalam “Mereka Menodong Soekarno” Letnan
Satu (lettu) Sukardjo Wilardjito, pengawal presiden yang berjaga malam
itu, mengaku langsung mencabut pistolnya. Namun, Soekarno menyuruh
pengawalnya itu untuk memasukkan kembali ke sarungnya.
Saat
membaca isi naskah di map merah itu, kata dia, Soekarno sempat bertanya
“Lho, diktumnya kok diktum militer, bukan diktum kepresidenan!” Secara
refleks, kata Sukardjo, ia melihat naskah tersebut.
Kop surat, kata dia, tidak ada lambang
kepresidenan. Dia justru melihat kop Markas Besar Angkatan Darat (MBAD)
di sisi kiri atas surat tersebut.
“Untuk mengubah waktunya sudah sangat
sempit. Tandatangani sajalah, Paduka. Bismillah,” kata Basuki Rachmat,
yang ditemani Brigjen Amirmachmud, Brigjen M Jusuf dan M Panggabean.
Surat yang kemudian dikenal dengan Surat
Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) itu akhirnya diteken oleh Soekarno.
Keempat jenderal utusan Soeharto itu lantas membawa surat dengan
sumringah. Setelah kejadian itu, Soekarno langsung mewanti-wanti
Sukardjo.
“Kamu harus keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati,” ujar Sukardjo menirukan pesan Soekarno saat itu.
Dan benar saja, tak
lama setelah kejadian itu, Sukardjo dilucuti oleh pasukan Kostrad dan
RPKAD untuk kemudian ditahan. Dia dipenjara oleh Orde Baru tanpa
peradilan selama 14 tahun. Selama ditahan, ia menerima penyiksaan,
seperti disetrum puluhan kali dan dipaksa mengaku PKI.
Meski banyak yang membantah cerita
tersebut, setidaknya itulah kesaksian dari Sukardjo, pengawal presiden,
yang kedatangan tamu empat jenderal pada pukul 01.00 WIB. Selain soal
pistol, kesaksian yang paling diragukan adalah kehadiran Brigjen M
Panggabean. Dari beberapa versi cerita, cuma Sukardjo yang mengatakan
kehadiran Panggabean di Istana Bogor. Jadi bukan 3 orang Jenderal, namun
4 orang Jenderal.
Namun, tak sedikit juga yang memperkuat
kesaksian Sukardjo. Mereka yang memperkuat kesaksian Sukardjo adalah R
Seoekiram, S Ponirah, Soeprapto Karto Siswoyo dan Rian Ismali.
Keempatnya merupakan purnawirawan CPM dan TNI AD.
Akibat pengakuannya yang menghebohkan
usai reformasi pecah pada 1998 itu, Sukardjo sempat menghadapi proses
hukum atas tuduhan menyebarkan berita bohong. Namun, ia berhasil lolos
dari jeratan hukum karena tuduhan itu tidak terbukti.

Kesaksian Sukardjo Wilardjito
Pintu
kamar Bung Karno diketuk pengawal. Ada perwira Angkatan Darat yang
ingin bertemu presiden. Mereka diutus oleh Suharto. Ada map merah muda
di tangan salah seorang jendral. Di dalamnya berisi naskah yang mesti
ditandatangani Sukarno.
Naskah itu tidak segera ditandatangani
Sukarno. Dia sempat bertanya tentang mengapa kop surat itu dari Markas
Besar Angkatan Darat. Seharusnya Surat Perintah itu ber-kop surat
kepresidenan.
Tapi pertanyaan Sukarno hanya dijawab
Jendral Basuki Rachmat, “Untuk membahas, waktunya sangat sempit. Paduka
tandatangani saja”.
Kesaksian ini dituturkan Sukardjo Wilardjito, mantan pengawal Presiden Sukarno.
Sesudah jatuhnya Sukarno, Sukardjo pernah
dipenjara oleh rezim Orba selama 14 tahun tanpa proses pengadilan,
termasuk menjalani beragam penyiksaan, disetrum puluhan kali dan dipaksa
mengaku PKI.
Sukardjo
ini pernah mengejutkan orang dengan kesaksiannya yang bersikukuh
menyatakan Basuki Rachmat dan Panggabean menodongkan pistol ke muka
Sukarno karena ia bimbang untuk menandatangani.
Melihat itu, Sukardjo sebagai pengawal presiden secara refleks mencabut pistol untuk melindungi presiden.
Namun Sukardjo meletakkan pistolnya kembali, karena Sukarno tidak ingin melihat pertumpahan darah.
Surat yang akhirnya ditandatangani Sukarno itu dikenal kemudian dengan nama Supersemar. Surat Perintah Sebelas Maret.
Sukardjo juga bersaksi bahwa yang
menghadap Sukarno adalah empat jendral dan bukan tiga jendral seperti
yang disebutkan selama ini.

Jendral M. Yusuf (wikipedia)
Keempat jendral utusan Suharto itu adalah:
Biarpun ada yang masih meragukan
kesaksian Sukardjo itu, tapi dia tetap berpegang pada kesaksiannya itu.
Kemudian malah menulis kesaksiannya di bukunya berjudul “Mereka Menodong
Bung Karno”.
Kesaksian Sukardjo bahwa Sukarno ditodong, pernah dibantah M. Yusuf dan Panggabean sendiri.
Kesaksian itu juga dibantah oleh A.M.
Hanafi mantan Dubes RI di Kuba, dalam bukunya “Hanafi Menggugat”.
Sehingga kebenaran kesaksian Sukardjo itu masih perlu ditelusuri lagi.
Benarkah demikian?
Ditodong atau tidak, rasanya Sukarno
bukan orang yang mudah digertak. Bagaimanapun, apapun alasan Sukarno
menandatangani naskah Supersemar, pada dasarnya kesaksian Sukardjo itu
menggambarkan situasi yang tidak kompromistik.

Jendral Maraden Panggabean (wikipedia)
Situasi yang membuat Sukarno terjepit.
Tak ada waktu bernegosiasi. Pokoknya teken sekarang! Ada bau konspirasi
di balik itu. Dan hasilnya adalah lahirnya Surat Perintah 11 Maret atau
Supersemar. Bung Karno menyebutnya dengan istilah SP Sebelas Maret.
Sesudah menandatangani surat itu, Bung Karno masih sempat mengatakan, bahwa surat itu mesti dikoreksi kalau keadaan sudah pulih.
Permintaan itu tidak pernah terwujud,
karena ketika menandatangani surat itu, tanpa disadari Sukarno sedang
menandatangani kejatuhannya.
Sesudah penandatanganan Supersemar, boleh dikatakan “wahyu sebagai pemimpin” seakan sudah tercabut dari Sukarno.
Sebagai presiden, Sukarno sudah
menandatangani ribuan surat. Tapi tandatangannya di surat yang satu ini,
Supersemar, menjadi pedang yang menghunus kekuasaannya sendiri.

Jendral Amir Machmud (wikipedia)
Kita tahu, Supersemar adalah surat mandat Sukarno pada Suharto untuk mengamankan negara yang kacau akibat G30S PKI.
Belakangan mandat Supersemar ini ternyata dijadikan legitimasi untuk mengambil alih kekuasaan yang menyingkirkan Sukarno.
Dengan Supersemar itu Suharto memperoleh surat sakti, kemudian bergerak cepat meraih kursi presiden.
Bung Karno yang sadar bahwa Supersemar ternyata dimanipulasi, dalam pidatonya berteriak “Jangan jegal perintah saya!
Jangan saya dikentuti!”. Ini ekspresi
kemarahan Sukarno kepada orang-orang yang dianggapnya telah menipunya,
melangkahinya dan membangkang perintahnya.
Menjelang kejatuhannya, Bung Karno mulai
agak kehilangan kontrol diri. Itu tampak dari pidato-pidatonya yang
emosional. Tampaknya Bung Karno mulai frustrasi. Dia sudah mulai merasa
ditinggalkan dan dikhianati oleh orang-orang sekitarnya.
Jenderal Basuki Rahmat (wikipedia)
Salah satunya yang bikin Sukarno merasa
dikentuti, seperti katanya, adalah Supersemar tadi. Bagaimana tidak?
Bung Karno merasa Supersemar diplintir!
Padahal Supersemar dimaksudkan Sukarno
untuk memberi mandat pada Suharto agar segera memulihkan keamanan
negara, bukan melengserkannya.
Kecurigaan presiden Sukarno bahwa ada persekongkolan yang berniat memanipulasi Supersemar, tercermin dari pidatonya.
Ketika itu Bung Karno mulai melihat
tanda-tanda Supersemar yang disebutnya SP 11 Maret itu mulai “dimainkan”
oleh Suharto. Karena itu Bung Karno menekankan berkali-kali, dirinya
tidak bermaksud mengalihkan kekuasaannya pada Suharto.
Kata Bung Karno, “Dikiranya SP Sebelas Maret adalah surat penyerahan pemerintahan. Dikiranya SP Sebelas Maret itu, suatu transfer of sovereignty. Transfer of authority.
Padahal TIDAK! SP Sebelas Maret adalah suatu perintah. SP Sebelas Maret
adalah suatu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya
pemerintahan. Pengamanan jalannya ini pemerintahan. Seperti kukatakan
dalam pelantikan kabinet. Kecuali itu juga perintah pengamanan
keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden.
Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah PENGAMANAN beberapa hal”.
Berdasarkan pidato Sukarno di atas,
timbul kecurigaan orang. Mungkinkah Supersemar “sengaja” dinyatakan
hilang? Betulkah naiknya Suharto sebagai presiden adalah
inskonstitusional karena bertentangan dengan amanat Supersemar? Dan
karenanya Supersemar mesti lenyap secara misterius? Apakah bisa
dipercaya begitu saja bahwa dokumen negara sepenting itu bisa hilang?
Dua naskah Supersemar di Arsip Nasional
disebutkan hanya fotocopy. Yang janggal, dua naskah itu tidak mirip
karena diketik dengan spasi berbeda. Pertanyaannya, yang manakah di
antara kedua naskah itu yang otentik? Atau apakah malah keduanya
sama-sama tidak otentik?
Menurut kesaksian staf intel Komando
Operasi Tertinggi Gabungan-5 (G-5 KOTI) Salim Thalib, naskah Supersemar
yang dikenal sekarang adalah palsu. Selain aslinya tidak serapi itu, isi
naskah juga tidak sama dengan naskah aslinya.
Jadi betulkah tuduhan beberapa kalangan
yang menyamakan ini dengan usaha penghilangan barang bukti? Kalau memang
Supersemar tidak diplintir, apa buktinya bahwa Supersemar itu tidak
diplintir?
Sebetulnya kenapa Supersemar itu mesti
dirancang dan Sukarno mesti dipaksa menandatangani? Ada banyak teori
konspirasi rumit tentang ini. Tapi saya tertarik dengan teori berikut
ini.
Persaingan PKI dan Angkatan Darat
Latar belakangnya tak lepas dari
persaingan antara PKI dan Angkatan Darat. Sebelum terjadinya G30S,
persaingan antara PKI dan Angkatan Darat sudah dalam taraf saling jegal
menjegal. Bahkan PKI sampai ingin membangun “Angkatan Kelima” dalam
militer.
PKI ingin menggeser Angkatan Darat. Dan
Angkatan Darat ingin menggeser PKI. Apalagi ketika itu Sukarno sudah
mulai sakit-sakitan. Mungkin usianya tidak lama lagi. Pokoknya siapa
cepat, dia dapat. Antara PKI dan Angkatan Darat sudah betul-betul
sikut-sikutan.
Begitu meletus konspirasi G-30S, inilah
kesempatan Angkatan Darat untuk menghancurkan saingan beratnya itu. Tak
ada ampun, pokoknya PKI harus musnah. Dan penghancuran itu akan lebih
afdol jika presiden sendiri yang mengumumkan pembubaran PKI. Soalnya
yang punya hak untuk membubarkan partai politik cuma presiden. Itu
adalah hak prerogatif presiden. Tapi tunggu punya tunggu, Sukarno kok
belum mau juga membubarkan PKI. Bagaimana ini?
Angkatan Darat melalui tangan Suharto pun
mengambil jalan pintas. Potong kompas. Caranya, harus dibuat sebuah
surat perintah yang telah terkonsep, yang membuat Angkatan Darat jadi
punya alasan yuridis melibas PKI. Konsep surat itu pun dibuat. Konsep
Supersemar. Isinya perintah presiden kepada Angkatan Darat (Suharto)
untuk mengamankan negara.
Nah, dengan dalih mengamankan negara
inilah Angkatan Darat jadi punya alasan mengganyang habis PKI. Angkatan
Darat memang berlomba dengan waktu. Harus bergerak cepat. Kalau tidak,
PKI bisa kembali bangkit mengumpulkan kekuatan dan mendepak jauh-jauh
Angkatan Darat dari panggung kekuasaan. Now or never! Jadi sekarang Angkatan Darat tidak boleh kalah cepat!
Setelah itu Suharto memerintahkan para
Jendral tadi untuk membawa surat itu kepada Sukarno. Dengan pesan
khusus, “pokoknya harus ditandatangani Sukarno”.
Begitu Supersemar ditandatangani, itulah
awal aksi pedang Orba. Nampaknya tanda tangan Sukarno tadi adalah
pembuka jalan bagi pelaksana Supersemar untuk mengamankan yang bisa
diamankan. Sesudah itu terjadi tragedi mengenaskan.
Di segala pelosok negeri berkubang darah
jutaan rakyat dengan alasan pembasmian PKI demi keamanan negara.
Korbannya tidak saja PKI, tapi juga orang-orang yang tiba-tiba
di-PKI-kan atau dipaksa mengaku PKI. Berjuta rakyat mendadak tak bermasa
depan dan terampas haknya karena dicap PKI.
Tak kurang Sukarno sendiri turut menjadi korban. Sukarno mengatakan dia mengutuk sekeras-kerasnya Gestok
(G30S PKI). Pelakunya harus dihukum, kalau perlu ditembak mati. Tapi
orang yang memperuncing peristiwa G30S PKI, hingga terjadi provokasi
membenarkan pembunuhan jutaan rakyat juga harus diadili. Apakah Sukarno
bermaksud menujukan ini pada Suharto?
Yang jelas, sesudah pernyataan Sukarno
itu, terjadi de-Sukarnoisasi. Kita tahu bagaimana Sukarno diisolasi,
dituduh terlibat G-30 S PKI tanpa bukti yuridis.
Tentu saja tuduhan itu aneh. Karena
bagaimana mungkin Sukarno dituduh melakukan kudeta terhadap dirinya
sendiri? Buntutnya, semua yang berhubungan dengan Sukarno menjadi tabu
dibicarakan di masa Orba. Bahkan beberapa departemen men-non-aktif-kan
pegawai yang ketahuan pro-Sukarno.
Suharto dan Amerika
Setelah skenario berjalan seperti
harapan, “para perancang” Supersemar lalu mabuk kemenangan. PKI yang
dulu jadi saingan utamanya untuk merebut “kursi Sukarno” sudah
tersungkur. Dan Sukarno sang pemilik kursi juga sudah dipaksa
meninggalkan kursinya. Suharto tak menyia-nyiakan kesempatan. Kursi yang
kosong tanpa pemilik itu harus diapakan lagi kalau bukan diduduki?
Dan ketika kursi Sukarno tadi diduduki
Suharto, di situlah awal mula kasak kusuk politik tentang “penyelewengan
Supersemar”. Apakah betul tuduhan bahwa ada permainan sistematis
Amerika di balik semua ini?
Yang jelas, dengan diselewengkannya
maksud Supersemar, yang paling berbahagia adalah Amerika. Karena itu
berarti jatuhnya Sukarno. Akhirnya mimpi Amerika terkabul sudah.
Terang-terangan Amerika menyatakan jatuhnya Sukarno sebagai kemenangan
Amerika. Presiden Richard Nixon menggambarkan kemenangan itu sebagai,
“Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”.
Sudah jelas.
Karena hadiah sesungguhnya terletak pada kekayaan alam Indonesia yang
menanti untuk dikuras. Dan batu penghalang yang menghalang-halangi
Amerika menguras alam Indonesia, yaitu Sukarno, sudah dibikin
terjungkal. Inilah awal kemenangan Amerika yang sejak 10 tahun
sebelumnya ingin menggulingkan Sukarno.
Bung Karno berhasil mengusir penjajahan
Belanda. Tapi setelah itu Bung Karno ambruk oleh Amerika. Mungkin karena
cara Amerika lebih cerdik. Soalnya Amerika tidak memegang gagang keris
secara langsung untuk menikam Sukarno. Keris itu diserahkannya kepada
rakyat Sukarno sendiri, yang menghujamkannya langsung ke presidennya
sendiri, di antaranya melalui provokasi perebutan kekuasaan dan akhirnya
menunggangi G-30S.
Pasca G30S, rakyat menjadi sangat takut
dengan yang kekiri-kirian. Ini artinya Indonesia meninggalkan Rusia dan
berpaling ke Amerika.
Dan setelah Supersemar
dijadikan surat sakti untuk memberantas sisa-sisa G-30S, lalu pemegang
Supersemar diangkat menjadi presiden, Indonesia berubah haluan 180
derajat. Hampir semua jabatan vital dipegang oleh perwira Angkatan
darat. Sehingga rakyat berbisik takut-takut dan bertanya siapa
sebetulnya yang meng-kup Sukarno?
Di bawah pemerintahan yang hampir
semuanya orang militer, rakyat Indonesia jadi takut dan kapok dengan
yang segala yang berbau kiri. Semua orang tiba-tiba saja beragama.
Banyak orang tiba-tiba rajin ke mesjid dan ke gereja. Soalnya takut
dituduh PKI. Sehingga kiblat Indonesia berganti ke Amerika, tidak lagi
ke Blok Timur.
Rusia yang tadinya sahabat Indonesia
sekarang menyingkir. Amerika jingkrak-jingkrak! Soalnya mimpi mereka
untuk menancapkan kuku di Indonesia akhirnya terwujud. Indonesia yang di
bawah tanahnya banyak emas dan minyak itu akhirnya jatuh ke pelukan
Amerika. Apa buktinya?
Kepentingan Amerika
cuma satu. Pokoknya modal Amerika mesti masuk ke Indonesia. Hasilnya?
Begitu pemegang Supersemar diangkat menjadi Presiden menggantikan
Sukarno, maka produk undang-undang pertama yang digodok adalah RUU
Penanaman Modal Asing Tahun 1967.
Setelah lahir UU Penanaman Modal Asing,
sebut saja sumber daya alam mana di Indonesia yang sampai sekarang tidak
dikuasai Amerika? Sukarno telah ditumbangkan oleh Amerika. Dan
bagaimana pemangku Supersemar akhirnya lengser?
Ketika ayam jago yang
dielus-elus tuannya tidak lagi berguna, maka ayam itu “di-kuali-kan”
menjadi ayam sayur. Semua itu berawal ketika “kapitalisme Cendana”
ternyata semakin me-raksasa nyaris mendesak kepentingan kapitalisme
Amerika. Maka pemangku Supersemar pun akhirnya terdepak pula.
Di mana letak perbedaan kejatuhan Sukarno
dan Suharto? Sukarno memang dijatuhkan sesudah menandatangani
Supersemar, tapi tak pernah jatuh ke pelukan Amerika. Sedangkan Suharto
sudah jatuh sejak awal. Bahkan ketika dia baru saja mengirim utusannya
untuk memaksa Sukarno menandatangani Supersemar, di saat itu Suharto
telah jatuh ke pelukan Amerika.
Tidak ada kekuasaan yang abadi. Setiap
saat kekuasaan bisa saja jatuh. Tapi ada satu hal yang tidak otomatis
jatuh bersama kekuasaan. Yaitu kehormatan. (Walentina Waluyanti – Nederland, 4 Maret 2010)
Amerika sebut Supersemar Sebagai Kudeta
Tuduhan bahwa Surat Perintah 11 Maret
1966 (Supersemar) adalah puncak dari kudeta merangkak yang dilakukan
Soeharto, semakin jelas dengan adanya dokumen Central Intelligence Agency (CIA). Telegram rahasia dari Kedubes AS di Jakarta kepada Departemen Luar Negeri AS, sehari pasca-Supersemar, menyatakan: Indonesia baru saja melancarkan sebuah kudeta militer (military coup).
Dalam “Membongkar Supersemar”, Sejarawan
Baskara T. Wardaya melampirkan telegram rahasia yang ia dapatkan itu. AS
tidak hanya menyebut Supersemar sebagai kudeta. Tapi melihat caranya
yang merangkak, negara adidaya itu menyebut Supersemar sebagai “kudeta militer yang khas negeri tersebut”.
Isi telegraph rahasia itu adalah:
“Setelah lama ditunggu-tunggu kini Soekarno telah mempertaruhkan
nasibnya terlalu jauh. Rencana dia untuk menyingkirkan jajaran
kepemimpinan militer dan memasukkan seseorang yang dikenal sebagai pro-komunis sebagai Menteri Pertahanan telah mendorong militer untuk memotong kekuasaannya.”
Menteri yang dimaksud AS sebagai pro-komunis
adalah Mayjen Sarbini. Dia ditunjuk oleh Presiden Soekarno menggantikan
AH Nasution, yang dikenal dekat dengan AS. Saat Supersemar terjadi
Nasution tidak menjabat apa-apa lagi. Dia lebih banyak menunggu di rumah
sambil melihat dinamika politik yang terjadi.
Dukungan AS untuk penggulingan Soekarno
semakin jelas dengan adanya memorandum dari Deputi Asisten Khusus Bidang
Keamanan Nasional AS, Robert Komer, kepada Presiden Lyndon Jhonson.
Dalam memo itu, Komer menyebut Supersemar sebagai “kudeta yang sukses”.
Memo yang dikirim sehari setelah Supersemar:
“Mendukung sukses. Tidak sulit untuk menyadari betapa pentingnya
kemenangan AD atas Soekarno (meskipun Soekarno tetap dihormati sebagai
simbol negara). Indonesia memiliki jumlah penduduk – dan jumlah sumber
alam – melebihi yang ada di seluruh Asia Tenggara. Selama ini
Indonesia telah siap menjadi negara komunis yang ekspansionis, yang siap
mengancam bagian belakang posisi Barat di Asia Tenggara.”
Dalam “Peristiwa G 30 S yang Saya Alami”,
Soebandrio mengatakan, sangat jelas AS takut Indonesia dikuasai
komunis. Wakil Perdana Menteri I di kabinet Dwi Kora itu mengatakan ada
dua proyek AS di Indonesia. “Hancurkan PKI dan gulingkan Soekarno,”
cetusnya.
Soebandrio dan sejumlah menteri yang
berhaluan kiri memang banyak duduk di kabinet saat itu. Apalagi hubungan
AS dan Soekarno terus memburuk pasca-pernyataan keras Soekarno tentang
penghentian batuan negara adidaya ke Indonesia. “to hell with your aid,” cetus Soekarno saat itu.
Setelah Supersemar terbit, PKI mulai
diberangus, Soebandrio dan 14 menteri kabinet Dwi Kora yang loyal dengan
Bung Karno dan berhaluan kiri, ditangkap dan ditahan. Soebandrio
divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa.
“Dari posisi orang nomor dua di republik
ini, mendadak diadili sebagai penjahat dan dihukum mati,” ratap
Soebandrio di penjara Cimahi. Namun, Soebandrio akhirnya lolos dari
jerat maut berkat surat Presiden AS Lyndon Jhonson dan Ratu Inggris
Elizabeth kepada Soeharto.
“Soebandrio jangan ditembak, saya tahu
dia tidak terlibat dalam G 30S”, demikian surat yang akhirnya membuat
Soebandrio tetap hidup dan menulis kesaksiannya setelah reformasi
meletus.
Arsip Nasional Terus Mencari Supersemar Asli
Kepala ANRI M Asichin meyakini Supersemar
asli itu benar-benar ada. Naskah asli Surat Perintah 11 Maret 1966
(Supersemar) entah di mana kini berada. Arsip Nasional Republik
Indonesia (ANRI) mengaku hanya menyimpan versi palsu Supersemar.
Mungkinkah naskah asli surat perintah
dari Presiden Soekarno ke Soeharto itu ditemukan? “Yang jelas kami terus
berupaya,” kata Kepala ANRI, M Asichin, di Jakarta, Sabtu (10/3/2012).
Asichin menjelaskan
ANRI telah melakukan pencarian naskah asli Supersemar sejak tahun 2000
atau sejak reformasi membuka tabir kepalsuan surat, yang menjadi bahan
ajaran siswa-siswa pada masa Orde Baru.
“Terakhir kami wawancarai Joko Pekik dan
Rewang pada 2011,” kata Asichin tentang mantan dua anggota Partai
Komunis Indonesia (PKI), partai yang dibubarkan Soeharto setelah
menerima Supersemar.
Namun, kata Asichin, pada wawancara Juni
dan Juli 2011 itu, Joko Pekik dan Rewang juga tidak tahu perihal surat
tersebut. “Mereka cuma mendengar saat itu soal Supersemar, soal ada
tidak ada, mereka tidak tahu,” ujar Asichin.
Dalam rangka mencari Supersemar, ANRI
juga pernah mewawancarai keluarga Jenderal (Purn) M Jusuf, salah satu
petinggi Angkatan Darat (AD) yang mengantarkan Supersemar dari Soekarno
kepada Soeharto. Asichin mengatakan, klaim M Jusuf memiliki naskah asli
Supersemar tidak terbukti.
Kepada ANRI, Andi Heri, keponakan M Jusuf
yang saat itu menjabat Wakil Wali Kota Makassar mengatakan, “Keluarga
kami tidak menyimpan.” Wawancara itu dilakukan pada 31 Agustus 2005.
ANRI juga pernah mendatangi anak Jenderal
(Purn) AH Nasution, namun hasilnya juga sama, nihil. “Dia juga tidak
tahu,” kata Asichin. Secara pribadi, Asichin meyakini Supersemar asli
itu benar-benar ada. Soekarno sendiri pernah mengatakannya pada pidato
di HUT Kemerdekaan 17 Agustus 1966.
“Pak Moerdiono juga pernah mengatakan
beliau melihat dan beliau yakin ada,” kata Asichin. Mungkinkah naskah
asli Supersemar ditemukan? Setidaknya keyakinan kepala ANRI bisa jadi
modal untuk mencari Supersemar yang asli, yang telah memberi dampak bagi
kehidupan bangsa Indonesia sampai saat ini.
Penemu Supersemar Akan Diberi Penghargaan
Meski UU Kearsipan mengatur ancaman
pidana bagi penyembunyi arsip negara, hukuman untuk pemegang Surat
Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) nampaknya tidak terlalu ketat.
Bahkan, Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI) menjanjikan penghargaan
bagi mereka yang mengembalikan surat sakti dari Soekarno ke Soeharto
itu.
“Ya peraturan kan bukan untuk dilanggar,”
ujar Kepala ANRI, M Asichin, di Jakarta, Sabtu (10/3). Aschin
menjelaskan di UU Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan juga mengatur
soal penghargaan bagi mereka yang memberikan arsip negara yang bernilai
sejarah tinggi, seperti Supersemar. “Kita akan gunakan cara-cara
persuasif,” ujarnya.
Seperti diketahui, ancaman pidana soal
kearsipan di era Soeharto sangat besar. Pasal 11 Undang-undang Nomor 7
Tahun 1971 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan menyatakan
barangsiapa dengan sengaja memiliki arsip negara dengan melawan hukum,
maka akan dipenjara selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun.
Namun, pada revisi terakhir UU itu, yakni
UU Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, aturan pidana soal
penyimpanan arsip negara sedikit berubah. Bagi yang memiliki arsip
negara secara melanggar hukum ia akan dibui maksimal lima tahun. Dan
bagi yang memusnahkan arsip tidak sesuai prosedur yang diatur akan
mendapat hukuman maksimal 10 tahun penjara.
Cari Supersemar, ANRI pernah temui Tutut dan Megawati
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI)
terus berupaya mencari keberadaan naskah asli Surat Perintah 11 Maret
1966 (Supersemar). Dalam waktu dekat, lembaga itu akan mewawancari Siti
Hardiyanti (Tutut) Rukmana dan Megawati Soekarnoputri.
“Kita akan memasukan permohonan
wawancara,” kata Kepala ANRI, Asichin, di Jakarta, Sabtu (10/3/2012).
Asichin menjelaskan, adalah penting untuk mencari informasi seputar
Supersemar kepada keluarga Soekarno dan Soeharto, sebagai pemberi dan
penerima surat.
“Kita akan tanya pernah lihat tidak (naskah asli Supersemar-red), apapun jawaban beliau akan kita arsipkan,” kata Asichin.
Tidak hanya kepada keluarga pemberi dan
penerima surat, ANRI juga akan mewawancarai tokoh-tokoh yang dekat
dengan konteks peristiwa 1966 itu. Dia menyebut nama Akbar Tandjung dan
Cosmas Batubara, pentolan gerakan mahasiswa tahun 1966. “Siapa tahu
mereka tahu,” ujarnya.
Dalam rangka mencari Supersemar, ANRI
juga pernah mewawancarai keluarga Jenderal (Purn) M Jusuf, salah satu
petinggi Angkatan Darat (AD) yang mengantarkan Supersemar dari Soekarno
kepada Soeharto. Asichin mengatakan, klaim M Jusuf memiliki naskah asli
Supersemar tidak terbukti. (Reporter : Laurencius Simanjuntak/merdeka.com)
Sumber : indocropcircles
Ratna Sari Dewi: Wafat Bung Karno Tahun 1970 Sengaja Diatur!
Posted by
Unknown
10:20 AM
, under
Nasional
|
No comments

Ratna Sari Dewi: Wafat Bung Karno Pada Tahun 1970 Sengaja Diatur!

“Kematian Bung Karno sengaja
diatur terjadi pada 1970, agar Pemilu Indonesia di 1971 yang merupakan
pemilu pertama yang digelar pemerintahan Orde Baru, dapat terlaksana.
Pelaksanaan Pemilu 1971, secara politis tidak terkendala.” (Ratna Sari
Dewi Soekarno a.k.a. Naoko Nemoto)
Ratna
Sari Dewi Soekarno, sudah lama tidak terdengar. Salah satu hal menarik
dari wanita asal Jepang itu, setiap kehadirannya di Jakarta selalu
menciptakan berita.
Kalau bukan soal kecantikan, yah
pernyataannya. Dewi saat ini sudah berusia 72 tahun, lahir 6 Februari
1940. Tapi penampilannya belum seperti nenek-nenek.
Ia masih berdandan seperti wanita berusia
40-an tahun atau setengah abad. Dandanannya masih tetap trendy dan sisa
kecantikannya belum hilang.
Ketika demam Soekarno kembali muncul di Indonesia pada 1988 Dewi Soekarno pernah membuat pernyataan yang cukup mengejutkan.
Menurut dia, suaminya, Soekarno (Bung Karno) yang juga Proklamator RI, meninggal secara tidak wajar.
Kata wanita asal Jepang yang bernama asli
Naoko Nemoto itu, kematian Bung Karno sengaja diatur terjadi pada 1970,
agar Pemilu Indonesia di 1971 yang merupakan pemilu pertama yang
digelar pemerintahan Orde Baru, dapat terlaksana. Pelaksanaan Pemilu
1971, secara politis tidak terkendala.
Dewi menjelaskan, akan sangat janggal
bagi penglihatan dunia internasional jika Orde Baru yang dipimpin
Presiden Soeharto menggelar Pemilu di 1971.
Sebab pada saat itu, Indonesia tengah
memiliki Presiden Kembar: Soekarno (de jure) dan Soeharto (de facto).
Oleh karena itu sebelum Pemilu 1971, Soekarno harus disingkirkan
(dilenyapkan).

Soeharto dilantik menjadi presiden setelah mengeluarkan Supersemar ke presiden
SukarnoPernyataan Dewi itu merupakan salah satu penggalan dari wawancaranya
dengan Tabloid Detak. Media yang dikelolah Eros Djarot, sutradara film yang
dikenal dekat dengan puteri Bung Karno, Megawati pada saat itu, tidak berusia
panjang.Tabloid yang diterbitkan dari Gedung Prioritas, Jl.Gondangdia Lama,
Jakarta, tempat Surya Paloh menerbitkan harian Prioritas dan majalah Vista ketika
itu, kemudian menghentikan penerbitannya dan sebagian krunya lalu meluncurkan
media internet Detik Dotkom.
SukarnoPernyataan Dewi itu merupakan salah satu penggalan dari wawancaranya
dengan Tabloid Detak. Media yang dikelolah Eros Djarot, sutradara film yang
dikenal dekat dengan puteri Bung Karno, Megawati pada saat itu, tidak berusia
panjang.Tabloid yang diterbitkan dari Gedung Prioritas, Jl.Gondangdia Lama,
Jakarta, tempat Surya Paloh menerbitkan harian Prioritas dan majalah Vista ketika
itu, kemudian menghentikan penerbitannya dan sebagian krunya lalu meluncurkan
media internet Detik Dotkom.
Pernyataan Dewi tersebut tidak berhenti
di situ. Ia menuduh, sebelum meninggal, rezim militer sengaja
mengisolasi Soekarno di Wisma Yaso, sekarang Museum Mandala di Jl Gatot
Subroto, Jakarta.
Pengucilan dimaksudkan agar suaminya itu mengalami kehidupan yang stress.
Setelah itu ada alasan untuk membawa Bung Karno ke rumah sakit.
Tapi Dewi yang saat Bung Karno menjalani
kehidupan sebagai tahanan rumah sedang mengasingkan diri di Paris,
Prancis mengaku, mendapatkan informasi tentang keadaan Bung Karno
setelah ia mewawancarai para pembantu yang merawat almarhum.
“Bapak (Soekarno) meronta dan
berteriak-teriak bahwa dia tidak sakit, ketika sejumlah dokter yang
dikawal militer menjemputnya untuk dibawa ke rumah sakit,” berkata Dewi
kepada Tabloid Detak.
Pernyataan
Dewi itu secara resmi tidak perah dibenarkan ataupun dibantah oleh
pemerintahan Orde Baru. Namun isunya kemudian tenggelam dan dilupakan
orang begitu saja.
Tapi boleh jadi akuntabilitas Dewi sebagai sumber berita melemah, sebab prilaku Dewi di masyarakat pun, banyak yang tidak patut.
Di 1992, Dewi dilaporkan pernah berkelahi di sebuah pesta dengan anak bekas Presiden Filipina, Minnie Osmena.
Dewi melempar wajah sosialita yang
tinggal di Amerika Serikat itu dengan gelas anggur menyebabkan wajah
wanita asal Filipina itu harus mendapat jahitan pengobatan. Dewi sendiri
harus meringkuk di penjara California selama 37 hari.
Tidak lama berselang, pada 1994 Dewi
meluncurkan sebuah buku yang berisikan foto-foto tubuhnya yang tidak
dibalut oleh sehelai benangpun. Juga ada bagian-bagian yang diberi
gambar tatoo.
Buku yang diberi judul Madame De Syuga itu seperti melunturkan reputasinya sebagai isteri Proklamator RI.
Walaupun buku itu dilarang beredar di
Indonesia, tetapi gara-gara sebagian isinya dikutip majalah What’s On
Jakarta pengutipan itu mengakibatkan citra Dewi di Indonesia menjadi
kurang baik.
Dewi sendiri berdalih bahwa bukunya tidak
berisikan gambar porno, melainkan sekadar menggambarkan bahwa wanita
yang sudah berusia hampir setengah abad pun masih bisa memiliki tubuh
yang indah, sexy dan menarik.
Namun dalihnya tak bisa menghapus kesan negatif tentang dirinya.
Pada 2001, saat Megawati Soekarnoputri,
anak tirinya, baru saja menjadi Presiden RI, Dewi berkomentar singkat
“Saya kira, Megawati secara berangsur melakukan apa yang bisa dia
lakukan,” katanya.
“Hanya saja memang tidak mudah bagi
seorang wanita untuk menjadi Presiden di negara yang mayoritas
penduduknya pemeluk agama Islam”.
Pernyataan Dewi tersebut sulit
ditafsirkan apakah ia mendukung atau meremehkan kemampuan Megawati
selaku Presiden RI atau bagaimana?
Sulit ditafsirkan karena dari bahasa
tubuhnya, di sisi lain, putri tunggal kesayangannya Kartika Soekarno,
sangat lengket dengan keluarga Teuku Umar (Mega-Taufiq). Kedekatan
Kartika dengan keluarga Teuku Umar terlihat dari beberapa peristiwa.
Kartika ikut serta dalam rombongan Presiden Megawati yang melakukan lawatan ke luar negeri.
Kartika selalu bersama Puan Maharani, putri Mega dan Taufiq.
Mereka duduk di kabin kepresidenan.
Terpisah dari kabin kelas bisnis yang diduduki rombongan Menteri,
Anggota DPR dan para Pemimpin Redaksi.
Pada 2007, ketika Mega sudah menjadi mantan Presiden dan Kartika menikah di Belanda, Megawati secara khusus diundang.
Tapi yang mengudang Mega bukan Dewi
sebagai orangtua. Melainkan Kartika dan suaminya. Dewi sendiri saat ini
menetap di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. Kalau sedang berada di
Jakarta, jarang sekali atau bahkan tidak pernah nampak berkumpul dengan
keluarga Soekarno.
Tapi sekalipun begitu bukan Dewi
Soekarno, kalau kehadirannya tanpa berkumpul dengan keluarga Soekarno,
lalu berlalu tanpa pemberitaan media massa.
Dewi seakan punya kiat, setiap kali berada di Jakarta akan selalu menarik media untuk meliput atau mewawancarainya.
Dewi seperti punya Public Relations Officer Profesional
yang pintar mengatur acaranya di Jakarta agar tidak dilewatkan oleh
media begitu saja. Pada hari Minggu 13 Mei 2012 pukul 06:30, Dewi muncul
di program TalkIndonesia, MetroTV.
Dalam acara berbahasa Inggris yang
dipandu Dalton Tanonaka, bekas presenter CNN tersebut, Dewi diajak
berbicara tentang bagaimana seharusnya seorang Presiden RI berperan atau
berprilaku.
Dalton, warga Amerika keturunan Jepang
itu juga menghadirkan Ayu Saraswati, seorang artis yang diberi label
sebagai keponakan Prabowo Subianto, sosok yang mengklaim sebagai
pengagum Soekarno sekaligus salah seorang kontender dalam Pilpres 2014.
Saat talk show
berlangsung dan muncul gambar Soekarno yang disusul Presiden SBY,
terdapat sejumah pernyataan yang membandingkan era sekarang dengan masa
kepemimpinan Soekarno.
“Indonesia secara ekonomi masih tergolong
negara miskin. Tapi di era Soekarno, Indonesia disegani oleh
bangsa-bangsa lain.” jelasnya.
Di era itu, kalau Presiden berbicara, rakyat mendengar apa yang dikatakan oleh pemimpinnya. Sekarang tidak !” Dewi menambahkan.
Dewi melalui di stasiun TV milik Surya
Paloh, yang isterinya blasteran Jepang itu, seakan menyindir Presiden
SBY dan kepemimpinanya. [mdr/news.inilah.com/icc.wp.com]
***
Dalam sebuah surat semi puisi yang
ditulis Bung Karno tanggal 6 Juni 1962, salah satu bagiannya yang sangat
lembut, romantis, sekaligus menggemparkan berbunyi:
“Kalau aku mati, kuburlah aku
di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai seorang istri, yang aku
cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia
meninggal kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama
aku.”
Isi surat tsb menunjukkan kesan betapa
kuatnya jalinan asmara antara Bung Karno dengan Ratna Sari Dewi, yang
bahkan kematian sekalipun tidak akan memisahkan jasad mereka. (Dikutip dari http://www.indonesiamedia.com)
***
Setelah
Sukarno yang anti imperialis ingin agar bangsanya dapat merdeka total
dan
mandiri lepas dari imperialis, kemudian digulingkan oleh Soeharto
dengan jebakan
dari AS dan kemudian memimpin selama 32 tahun, maka
selanjutnya mereka
semua (para presiden) tak bisa lagi berbuat banyak
untuk rakyat dan negaranya
akibat tekanan dari negara-negara barat yang
pastinya mengancam akan
meruntuhkan kebersamaan dan keutuhan bangsa ini.
*****
Minggu, 30 Juni 2013
Waspada “Economic Bubble” : Indonesia Diambang Krisis Moneter?
Posted by
Unknown
9:57 PM
, under
Nasional
|
No comments

Waspada!! “Economic Bubble” Sebagai Indikator Awal Krisis Moneter : Bisa Jadi, Indonesia Justru Sedang Diambang Krisis Keuangan!

Gelembung Ekonomi atau “Economic Bubble”
dapat muncul setiap saat, tanpa didahului terjadinya ketidakpastian
harga dan aksi spekulasi. Fenomena globalisasi membuat krisis ekonomi di
suatu negara langsung menciptakan ancaman krisis serupa di seluruh
negara di dunia. Janganlah kita mudah terlena dengan indikasi ekonomi
makro yang gemilang. Namun sesungguhnya keropos di dalam.

Ditengah krisis dunia sejak tahun 2008
yang akhirnya berkembang secara global termasuk di AS dan Eropa, namun
justru pendapatan perekonomian dan daya beli rakyat dibeberapa negara
seperti Cina, India dan Indonesia semakin tinggi.
Banyak statistik membuktikan bahwa rakyat
Indonesia semakin makmur, dibidang otomotive dan property misalnya,
kedua jenis produk itu dibeli layaknya “kacang goreng”.
Di dunia otomotif, dari motor hingga
mobil-mobil mewah berseliweran di jalan, hingga blanko STNK pun habis
tanpa stok saat mengurus perpanjangan STNK dan harus menunggu beberapa
bulan ke depan, gila! ini terjadi hanya karena membludaknya pembelian
otomotif di Indonesia.
Masalah
macet? bukan lagi terjadi di kota besar, saat Lebaran misalnya, macet
sudah seantero pulau-pulau besar di Nusantara, melalui jalan-jalan antar
provinsi di tiap pulaunya.
Harga properti dan tanah juga naik
gila-gilaan, kawasan elite di Menteng Jakarta misalnya, pada periode Mei
2013 tiap satu meter persegi sudah mencapai hingga Rp. 100 juta lebih.
Tapi harga setinggi itupun tetap dibeli,
harga-harga perumahan, apartemen dan properti lainnya di Indonesia juga
semakin naik tanpa patokan yang jelas, tapi tetap dibeli dan terbeli
oleh masyarakat. Luar biasa daya beli masyarakat pada saat ini.
Masih ingat bagaimana orang-orang
golongan ekonomi menengah ke atas dengan perhiasan mencolok serta gadget
terbaru yang digenggamnya, masih mau dan rela mengantri di mall-mall
sepanjang lebih dari 100 meter hanya untuk dapat membeli sebuah sandal
merk Crocs?
Masih
ingat orang berebut mengantri panjang bagaikan ular di setiap ada
peluncuran handphone keluaran terbaru dengan harga discount?
Harga sebuah sandal atau handphone yang
kelewat mahal “tak masuk akal” jauh dari biaya produksi hanya ada di
Indonesia, karena masyarakatnya sangat konsumtif terhadap merk-merk
“kelas dunia” tertentu diatas negara-negara lainnya.
Sehingga, banyak produsen handphone dan
gadget meluncurkan produk terbarunya justru di Indonesia. Selain
konsumtif, Indonesia memang tak berdampak signifikan oleh krisis monetar
dunia yang belum pulih hingga kini.
Indonesia merupakan salah satu market
atau pasar potensial di dunia dengan jumlah penduduk 250 juta, yang
nyaris semuanya memakai barang import. Berbeda dengan banyak negara lain
yang penduduknya jauh lebih banyak dibanding Indonesia, namun warganya
tidak begitu konsumtif apalagi terhadap suatu brand atau merk seperti
warga Indonesia.
Namun janganlah justru senang, BISA JADI
inilah salah satu indikator awal krisis moneter Indonesia sebentar lagi
untuk ke depannya, ketika harga-harga naik tanpa patokan, ketika rakyat
tetap membelinya, Economic bubble! Mirip Amerika Serikat saat terpuruk ekonominya. Kredit macet perumahan tak terkira. PREPARE! Economic bubble ahead!

Gelembung ekonomi (economic bubble),
atau gelembung spekulatif, atau gelembung keuangan adalah “perdagangan
dalam volume besar dengan harga yang sangat berbeda dengan nilai
intrinsiknya”.
Dalam kata lain, memperdagangkan produk
atau aset dengan harga yang jauh lebih tinggi atau lebih mahal daripada
nilai fundamentalnya!
Walaupun beberapa ahli ekonomi menyangkal
adanya gelembung ekonomi, tapi penyebab gelembung ekonomi tetap menjadi
tantangan untuk diteliti bagi mereka yang yakin bahwa harga aset sangat
sering menyimpang dari nilai intrinsiknya.

Meskipun ada banyak penjelasan tentang
penyebab gelembung ekonomi, namun belakangan ini diketahui bahwa
gelembung ekonomi dapat muncul bahkan tanpa didahului ketidakpastian,
spekulasi, atau rasionalitas terbatas!
Penjelasan lain mengatakan gelembung
ekonomi mungkin akhirnya disebabkan oleh proses koordinasi harga atau
norma-norma sosial yang baru muncul.
Pengamatan nilai intrinsik sering sulit
dilakukan dalam keadaan nyata di pasar, sehingga gelembung yang terjadi
sering hanya dapat dikenali dengan pasti secara retrospektif, ketika
terjadi penurunan harga secara tiba-tiba.
Keadaan anjloknya harga seperti itu sering disebut juga sebagai Keruntuhan (crash) atau “pecahnya gelembung” (boom economic).
Fase “boom economic” maupun
resesi dalam suatu ekonomi gelembung adalah contoh-contoh dari mekanisme
“umpan balik positif” yang membedakannya dari mekanisme “umpan balik
negatif” yang menentukan harga keseimbangan dalam keadaan pasar normal.
Harga-harga dalam gelembung ekonomi dapat
berfluktuasi dengan tidak menentu, dan menjadi tidak mungkin untuk
memprediksinya hanya berdasarkan penawaran dan permintaan saja.
Ahli ekonomi menggunakan istilah
“gelembung” untuk peningkatan harga aset secara ekstrem berdasarkan
harapan kenaikan harga pada masa depan dan tanpa dukungan fundamental
ekonomi dan lazimnya diikuti kenyataan yang bertolak belakang dari
harapan, dan anjloknya harga-harga.
Contoh-Contoh Gelembung Ekonomi di Indonesia dan di Dunia
Sebagai contoh-contoh kecil, masih
ingatkah Anda saat mewabahnya berbagai produk “dengan harga gila dan
aneh” di Indonesia yang tak masuk akal beberapa tahun lalu?

Ikan
Louhan, hanya karena motif berwarna gelap yang ada disisi samping
badannya dan mirip tulisan sesuatu, harganya bisa mencapai milyaran
rupiah. Kini tak ada lagi kabar tentang bisnis ini.
Masih ingat saat Indonesia evoria dan
demam ikan Louhan? Seekor ikan Louhan bisa berharga ratusan juta hingga
milyaran, hanya karena terdapat “mirip tulisan” tertentu pada corak
berwarna gelap yang ada disamping badannya dan hanya dapat terlihat
berupa titik-titik abstrak disamping badannya, dengan begitu harganya
mencapai milyaran rupiah.
Begitu pula dengan ikan Louhan yang
bentuk fisiknya cacat sejak lahir, ketidaksempurnaan bentuk tubuhnya
juga dapat dihargai jutaan rupiah.
Lalu, bagaimana gilanya harga seekor
tokek? Tokek yang diyakini dapat menyembuhkan AIDS, maka tokek dijual
mahal, tokek merupakan binatang yang saat itu banyak dicari
keberadaannya oleh sejumlah masyarakat.
Pasalnya, jenis reptil yang masuk
golongan cecak besar suku Gekkonidae itu memiliki harga jual tinggi di
pasaran. Harga tokek yang memiliki berat 4 ons bisa dijual lebih dari Rp
500 juta rupiah hingga milyaran rupiah.
Dengan iming-iming akan mendapatkan
keuntungan besar, sejumlah masyarakat berlomba-lomba untuk berbisnis
tokek. Dari tokek kecil dibeli dengan harga mahal, lalu dijual lagi
dengan harga lebih mahal, begitu seterusnya, selalu dibeli oleh orang
yang bukan membutuhkannya, tapi hanya karena bisnisnya.

Tokek,
yang masuk golongan cecak besar suku Gekkonidae, pada masa lalu
memiliki harga jual sangat tinggi di pasaran karena diyakini bisa
menyembuhkan AIDS. Harga tokek yang besar isyunya bisa dijual lebih dari
1 milyar rupiah. Kini tak ada lagi kabar tentang bisnis ini.
Hingga pada pembeli tokek terakhir
inilah, tokek hasil pembeliannya itu akhirnya tak laku lagi dijual, tak
ada pembeli lain yang berani membelinya dengan harga sangat tinggi. Yang
laku untuk diekspor justru yang hanya berukuran biasa.
Bagaimana pula dengan harga sebuah
tanaman Anthurium beberapa tahun lalu? Gelembung harga hingga ratusan
juta rupiah tanaman talas-talasan (Aracaceae) berlabel Anthurium, yang booming pada sekitar tahun 2004-2007, membuat beberapa kalangan masyarakat kaya mendadak, dan sebaliknya, miskin mendadak!
Itu terjadi karena migrasi tingkat
pendapatan, dari kalangan pejabat pemerintah yang kaya dan berpunya dari
perkotaan dengan tabungannya jutaan rupiah, berpindah ke kalangan
petani bunga di desa pedalaman dan kaki pegunungan, yang bahkan
sebelumnya tak paham caranya bikin rekening tabungan di bank (waktu itu
tak banyak orang desa punya rekening, bank biasanya cuma ada di kota).
Penawaran suplai terbesar tamanam yang
datang dari desa-desa, dan permintaan terbesar datang dari perkotaan,
atau ibu kota Jakarta, yang kebanyakan tidak mengerti hukum ekonomi
pasar, permintaan dan penawaran, serta rekayasa sosial kelangkaan
komoditas (oleh para pemain lama di pasar), untuk mengendalikan tingkat
harga.
Anthurium
andraeanum, pohon dari zaman dahulu kala yang biasanya ada
disemak-semak hutan ini, anehnya, harganya sempat sangat mahal. Kini tak
ada lagi kabar tentang bisnis ini.
Bagaimana bisa tanaman sejenis talas ini, Anthurium,
yang biasanya tumbuh liar, atau ditanam sebagai penghias ruangan di
rumah-rumah itu harganya bisa membumbung sampai puluhan kali lipat dari
tingkat pendapatan perkapita masyarakat Indonesia pada umumnya?
Semua itu karena setiap barang bisa
dihargai atau divaluasi oleh pasar, dan pasar dibangun dari dua komponen
utama, yaitu penawaran (supply) dan permintaan (demand).
Kurva akan berusaha mencari tingkat keseimbangan (equilibrium), antara permintaan dan penawaran, dan secara ekonomi pergeseran itu bisa sangat liar, tak terkendali.
Gelembung ekonomi tanaman talas Anthurium
ini sebenarnya model kasus yang meniru persis kasus gelembung ekonomi
Bunga Tulip di Belanda, pada periode 1636- 1637, tahun yang sama
awal-awal kapal dagang VOC mendarat di tanah Jawa.
Kasusnya seakan menggelikan, konyol tapi nyata, oleh karena itu pakar ekonomi sering melabelnya dengan : Teori Kegilaan Massal, atau Kebodohan Besar, saat manusia bisa berlomba membeli bunga atau tanaman, dengan harga yang setara dengan rumah mewah, di zamannya.
Tulip
sebenarnya bukanlah tanaman asli Belanda (di dataran rendah/
Nederland), walaupun mungkin sampai sekarang menjadi ikon utama negeri
itu, selain kincir angin.
Tulip aslinya dari kawasan Asia Tengah,
yang pertama kali dikultivasikan pada sekitar tahun 1000, oleh para
botanis dan ahli pertamanan Kesultanan Turki Usmaniyah.
Popularitas Tulip sebagai komoditas
dengan nilai ekonomi meningkat, dengan bertambah eratnya relasi
perdagangan antara Turki Usmaniyah dengan kerajaan-kerajaan di tanah
Eropa, utamanya Tahta Suci Romawi.
Kultivasi Tulip di Belanda dimulai oleh
satu orang botanis, mantan ahli taman Kaisar Maximilian II, yang
membangun taman botani kerajaan di Wina, Austria, bernama Claudius
Clusius. Pada 1594, Tulip tumbuh pertama kali di tanah Eropa, setahun
setelah kedatangan Claudius di Belanda.
Selama periode 1594 sampai 1637 Tulip
menjadi komoditas ekonomi berharga tinggi di Eropa, simbol status
sosial, dan tentunya langka, karena ini syarat pertama sebuah barang
bisa dimainkan kurva equilibrium-nya.
Bunga Tulip yang indah menjadi simbol
sosial kalangan atas, para bangsawan dan borjuis Eropa, membuat
permintaan terus meningkat pesat, dan sesuai hukum pasar, maka penawaran
harus mengimbangi untuk terbentuknya harga yang disepakati.
Tumbuhnya permintaan Tulip jauh lebih
cepat daripada tingkat produktivitasnya. Siklus hidup Tulip butuh 7
sampai 12 tahun untuk pembibitan hingga panen bunga.
Untuk mengendalikan harga Tulip, pedagang
Tulip menggunakan cara baru, yaitu dengan model surat berharga, yang
dikeluarkan setiap musim dingin, hingga pembeli bisa mendapatkan
produknya di musim panas.

Bunga Tulip, yang sempat menghancurkan perekonomian Belanda dimasa lalu akibat dari ‘economic bubble’.
Surat berharga itu dibuat berdasarkan prediksi kualitas bibit, dan tentunya prediksi harga yang pantas di masa depan, atau subprime lending.
Peredaran instrumen transaksi, berupa surat hutang, membuat peningkatan
nilai agregat nominal hutang, yang tidak diimbangi dengan transaksi
riil, pertukaran barang (Tulip) dengan uang (alat tukar resmi).
Lambatnya siklus produksi Tulip yang
sangat tidak sebanding dengan jumlah pertumbuhan permintaannya, sangat
berkontribusi untuk terjadinya gelembung ekonomi yang berpuncak pada
tahun 1636- 1637.
Pada awalnya yang berjudi dengan
pertumbuhan harga Tulip hanya kalangan pedagang, lalu demam Tulip ini
merambah ke kalangan bangsawan dan orang kaya, bahkan masyarakat umum,
karena adanya harapan bahwa pembelian hari ini, akan bisa dijual dengan
harga berlipat pada bulan- bulan berikutnya.
Pada Januari 1637, harga sepucuk Tulip
menyentuh harga 6000 Florins atau setara 1,8 juta USD pada masa kini
(kurs April 2013) sedangkan pendapatan perkapita di Belanda saat itu di
angka 150 Florins atau setara 45,000 USD (kurs April 2013 ).
Pada Februari 1637, terjadi penjualan
Tulip dalam jumlah besar yang diikuti dengan panik massal penjualan stok
Tulip secara beruntun oleh para pelaku pasar, harga Tulip pun anjlok,
sama dengan harga seonggok bawang putih, di kala itu.
Talas Anthurium
jelas punya kesamaan model kasus, banyak petani di kaki gunung yang
kaya mendadak, karena ulah spekulan di perkotaan. Namun selebihnya,
banyak ibu- ibu istri pejabat, yang telanjur menanamkan uangnya dengan
harapan akan menangguk keuntungan berlipat, jatuh merugi.
Nilai Anthurium tertinggi yang
ditawarkan pernah sampai di titik harga Rp. 300 juta rupiah, dengan
perbandingan rata-rata upah minimum regional Jawa Tengah (tempat
terbanyak petani Anthurium untuk perkotaan) perkapita hanya Rp. 12 juta
rupiah, 25 kali lipat.
Secara agregat nominal, persentase rasio,
atau skala ekonomi memang tidak sebesar “Tulipmania” 1636- 1637 di
Belanda, tapi kasus Anthurium 2006- 2007 di Jawa Tengah ini cukup mampu membolak-balik status sosial ekonomi beberapa kalangan.
Siapa yang diuntungkan dari kasus gelembung semacam bunga Tulip dan Anthurium ini?
Yang diuntungkan tentunya adalah para
spekulan yang tahu benar kapan saatnya membeli dan menjual stok
barangnya, mereka yang mendengar pertama kali saat harga masih murah,
dan menjualnya kembali pada titik harga tertinggi.
Siapa yang dirugikan? Tentunya adalah
“para pengekor” yang membeli saat harga mendekati puncak, dan menjual
stoknya, saat harga barang sudah jatuh, menjauhi titik tertinggi harga
pasar, mirip fenomena jual-beli tokek.
Menariknya kurva parabol pertumbuhan
persentase marjin, dalam kasus- kasus gelembung ekonomi, selalu dibumbui
dengan variabel psikologi pelaku pasar, misalnya: dorongan memiliki
simbol status sosial pergaulan, hasrat meraih keuntungan berlipat atau
bumbu meta-fisikal segala, tentang doa-doa yang dikabulkan, bahwa tujuh
turunan generasi akan kaya raya, tanpa perlu lagi bekerja.
Ya, manusia ternyata tetap rasional,
selama kondisi psikisnya juga stabil dan itu bukan perkara yang mudah
untuk dikendalikan, apalagi jika yang dimaksud adalah kondisi psikologi
banyak manusia, komunal.

Bubble Lifecycle Graphic
Kasus gelembung ekonomi bisa terjadi
karena para pelaku pasar, para manusia yang sebenarnya adalah makhluk-
makhluk yang lebih dominan sisi psikis daripada kognitifnya (rasio).
Sisi- sisi dasar psikis manusia yang sering digunakan sebagai “tombol
ajaib”, untuk membuat pasar dinamis adalah: rasa takut dan harapan masa
depan lebih baik.
Komodifikasi rasa takut (fear) dan harapan (hope)
akan selalu dimainkan oleh segelintir kecil manusia, untuk
mengendalikan sebagian besar manusia lain, dalam kasus ini adalah untuk
mengendalikan kondisi psikologis komunal pelaku pasar.
Investasi terbaik adalah kembali ke diri
sendiri, yaitu untuk memiliki pengetahuan dan keahlian sebanyak yang
kita bisa serta perlukan dan membaca perilaku sosial masyarakat tempat
kita hidup sehingga mampu menentukan posisi, apakah akan mengikuti arus
kebodohan massal, memperingatkan mereka, atau tidak ikut sama sekali dan
tidak terlibat dalam penanggukan keuntungan, ataupun kerugian besar,
dalam waktu sekejap.
Di kasus semacam inilah kapitalisasi
informasi menemukan nilai transaksional yang bisa dikalkulasi dan
divaluasi, bukan sekedar jargon- jargon kosong tentang abad informasi,
yang kadang justru susah dipahami publik awam.

Tulip mania di Belanda (1646), ikan mujair jenis Lohan, cicak besar si Tokek, tanaman semak Anthurium, dan gelembung saham lainnya adalah contoh tipikal dari gelembung spekulasi. Di Jepang, penggelembungan harga aset terjadi pada akhir 1980-an.
Bahkan krisis ekonomi di Amerika Serikat yang dimulai tahun 2008 lalu juga diawali oleh economic bubble,
dimana rakyatnya mempunyai daya beli yang tinggi serta suku bunga yang
tinggi, hingga akhirnya tak lagi mampu membayar kredit apapun, termasuk
kredit rumah yang tak terkira jumlahnya.
Tautan jurnal tentang Tulip mania 1636-1637 dapat anda unduh sebagai bahan perbandingan dan study (format PDF): University of Chicago JSTOR, UCLA , Maurits van Der Veen, University of Georgia, Scott Nicholson
Beberapa kasus krisis ekonomi yang berawal dari Economic Bubble atau Gelembung Ekonomi lainnya:
- Tulip mania (berpuncak pada Februari 1637)
- The South Sea Company (1720)
- Mississippi Company (1720)
- Spekulasi saham kereta api Inggris (1840-an)
- Spekulasi tanah di Florida 1920-an (1925)
- Gelembung ekonomi Amerika 1920-an (Roaring Twenties), (sekitar 1922-1929)
- Nifty Fifty, akhir 1960-an dan awal 1970-an
- Spekulasi saham Poseidon, awal 1970-an
- Penggelembungan harga aset di Jepang (1986-1990)
- Krisis finansial Asia 1997
- Gelembung dot-com (1995–2000)
- Gelembung perumahan Amerika Serikat (2005-2008)
Potensi Gelembung Ekonomi
Kalangan pengusaha dan pelaku ekonomi di
tanah air mendapat warning penting pertengahan Mei 2013 lalu dari Wakil
Presiden Boediono. Saat membuka World Ceramic Tiles Forum di
Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (30/6/13), wapres mengingatkan pelaku
ekonomi tentang kemungkinan terjadinya ’’gelembung ekonomi’’.
Selama ini, ahli
ekonomi menggunakan istilah ’’gelembung’’ untuk menyebut fenomena
peningkatan harga aset secara ekstrem berdasar harapan kenaikannya pada
masa depan tanpa dukungan fundamental ekonomi kuat.
Secara akademis,
gelembung ekonomi, spekulatif, atau keuangan juga sering diartikan
sebagai ’’perdagangan dalam volume besar dengan harga yang sangat
berbeda dengan nilai intrinsiknya’’.
Dalam konteks negara, kebijakan yang
terlalu mengejar pertumbuhan jangka pendek dan melupakan jangka menengah
hingga panjang bisa menimbulkan gelembung ekonomi.

Dengan begitu, dalam mengambil kebijakan
ekonomi makro, pemerintah akan mengarahkan kepada upaya menghindari
terjadinya kenaikan harga barang secara tidak rasional.
Perekonomian Indonesia pada 2010 lalu memang sama sekali tidak mengindikasikan gejala ke arah adanya penggelembungan.
Pertumbuhan ekspor dan investasi di
sektor riil meningkat dan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional
pada kuartal pertama tahun 2013. Belum lagi pertumbuhan kredit dan
penempatan dana masyarakat di perbankan juga meningkat pesat.
Namun, mencermati peringatan wapres yang
juga memiliki kapasitas tak diragukan di bidang ekonomi moneter
sangatlah penting. Apalagi, belakangan diketahui gelembung ekonomi dapat
muncul setiap saat, tanpa didahului terjadinya ketidakpastian harga dan
aksi spekulasi.
Fenomena globalisasi membuat krisis
ekonomi di suatu negara langsung menciptakan ancaman krisis serupa di
seluruh negara di dunia. Setelah krisis finansial global 2008 yang
berawal dari Amerika Serikat, dunia kini dibayangi dampak krisis baru
akibat terguncangnya perekonomian Yunani.
Jika penyebaran dampak
krisis Yunani juga tak bisa dicegah, virusnya bisa mengglobal.
Akibatnya, semua negara kini mengelola perekonomian masing-masing dengan
penuh hati-hati.
Apa yang disampaikan Boediono merupakan
bagian dari kehati-hatian tersebut. Peringatan itu juga sebagai isyarat
agar kita tidak mudah terlena dengan indikasi ekonomi makro yang
gemilang. Namun sesungguhnya keropos di dalam.

Kenyataan bahwa penyumbang terbesar
pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi masyarakat, sebuah aset
berharga yang harus terus dijaga. Caranya, segala upaya kebijakan
ekonomi harus fokus pada pertumbuhan sektor riil. Tak hanya pertumbuhan
di sektor keuangan, perbankan, saham, dan sektor finansial yang terbukti
beberapa kali semu serta gampang menipu.
ADB Ingatkan Indonesia Waspadai Gelembung Ekonomi
Bank Pembangunan Asia (ADB) mengatakan
peningkatan arus modal pada pasar obligasi lokal di beberapa negara
berkembang Asia Timur dapat mendorong risiko terjadinya gelembung (bubble), walaupun hal tersebut menunjukkan adanya minat investor terhadap kawasan ini.
“Kawasan ini lebih tangguh dibandingkan
dulu, namun pemerintah harus berhati-hati terhadap pembalikan arus modal
yang dapat menyebabkan bubble, apabila perekonomian di AS dan
Eropa mulai membaik,” ujar Ekonom Senior ADB untuk Integrasi Ekonomi
Regional, Thiam Hee Ng, dalam keterangan pers tertulis yang diterima di
Jakarta, Senin (18/3/13).
Sejak 1990, investor
swasta telah menanamkan modal di kawasan Asia Timur karena suku bunga
rendah dan pertumbuhan ekonomi yang melambat di negara maju. Kondisi
tersebut makin meningkat hingga akhir tahun 2012 lalu.
Kawasan negara berkembang di Asia Timur
dalam laporan ini mencakup Indonesia, China, Hong Kong, Korea Selatan,
Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
ADB mencatat pada akhir 2012, pasar
obligasi di negara Asia Timur mencakup dana senilai 6,5 triliun dolar AS
atau lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2011
yang hanya tercatat 5,7 triliun dolar AS.
Situasi tersebut menunjukkan adanya
peningkatan sebesar 12,1%. Hal yang sama terlihat dari pasar obligasi
korporasi yang mengalami peningkatan hingga 18,6% atau sebesar 2,3
triliun dolar AS.
Contoh
kondisi di pasar obligasi Indonesia, di mana kepemilikan obligasi
pemerintah sebesar 33% dikuasai investor luar negeri hingga akhir 2012.
Bandingkan dengan kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Malaysia yang mencapai 28,5% pada akhir September 2012.
Pasar obligasi lokal Indonesia meningkat
pada triwulan IV 2012 sebesar 9,7% bila dibandingkan dengan kondisi
tahun lalu atau meningkat 3,3% dibandingkan akhir September 2012.
Sedangkan obligasi korporasi Indonesia meningkat hingga 19 miliar dolar
AS dan obligasi pemerintah mencapai 92 miliar dolar AS.
Pasar obligasi pemerintah tumbuh 6,6% year on year karena penerbitan Surat Perbendaharaan Negara (SPN), treasury bill dan Surat Utang Negara (SUN). Penerbitan obligasi korporasi bahkan meningkat lebih tinggi 27,6%.
Waspadai Bubble Ekonomi Indonesia!
Pengamat ekonomi, yang juga pendiri CReco
Research Institute, M Chatib Basri, mengingatkan Pemerintah Indonesia
akan terjadinya imbas gelembung pertumbuhan ekonomi yang semu (bubble economy) dengan mengalirnya dana masuk ke Indonesia sebagai dampak kenaikan pagu utang Pemerintah AS sebesar 1,2 triliun dollar AS.
Sebab, dana yang mengalir deras ke pasar
uang, pasar modal, dan perbankan Indonesia harus bisa diserap untuk
menggerakkan sektor riil dan investasi jangka panjang. Jangan hanya
bertengger di pasar uang, pasar modal, atau bank belaka.
“Kalau hanya numpang di situ saja, itulah yang menyebabkan peningkatan bubble economy,”
tandas Muhammad Chatib Basri Selasa (2/8/2011) yang akhirnya dilantik
oleh Presiden SBY sebagai menteri keuangan pada 20 Mei 2013 lalu
menggantikan Agus Martowardojo yang dicopot dari jabatannya karena
terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia.
SBY melihat sosok Chatib sebagai seorang
ekonom yang memiliki pengalaman dan penugasan yang luas. SBY juga memuji
prestasi Chatib selama memimpin BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal)
dalam setahun terakhir.
Muhammad Chatib Basri (Menteri Keuangan)
“Investasi di Indonesia tumbuh secara
signifikan, ini sangat penting kontributor di kala ekspor kita dan
ekspor negara-negara lain mengalami kemerosotan,” puji SBY.
Chatib Basri pernah bertugas sebagai
stafsus menteri keuangan, sebagai deputi menkeu untuk tugas-tugas di
G20. Sebelum dipercaya menjabat sebagai Kepala BKPM, Chatib menjabat
sebagai wakil ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN).
Menurut Chatib, Indonesia memang bisa
mendapatkan dana murah untuk pendanaan jangka panjangnya. Namun, apakah
bisa diserap secara optimal?
“Syaratnya, pemerintah
juga harus segera membangun infrastruktur jalan, jembatan, dan pelabuhan
agar investor mau mengeluarkan dananya untuk investasi jangka panjang
ataupun foreign direct invesment (FDI). Tanpa mewujudkan itu, yang terjadi cuma bubble. Itulah risiko yang harus diwaspadai,” kata M. Chatib Basri.
Gelembung atau “‘pertumbuhan ekonomi yang
semu’” akibat masuknya dana asing justru akan meningkat jika dana
tersebut tak bisa untuk menggerakkan sektor riil. “Karena itu,
pemerintah harus segera merealisasi regulasi yang belum ada, seperti RUU
Pertanahan, pembebasan lahan, dan koordinasi yang semakin baik serta
perbaikan iklim investasi,” kata Chatib mengingatkan.
Hutang AS Yang Tak Mampu Dibayar Masih Merupakan Ancaman Ekonomi Global!
Amerika Serikat hampir pasti lolos gagal bayar (default)
setelah DPR mereka menyetujui kesepakatan peningkatan batas utang
pemerintah federal, sejak tahun 2011. Meski begitu, para kreditor AS
menilai, utang AS yang menggunung dan dollar yang terlalu dominan masih
tetap mengancam ekonomi global.

“Humans
are the only species that pay to live on the Earth… Our money is fake.
Our debt is fake. Our two party system is fake. Our healthcare system is
fake. Most of the stuff we’ve been told is fake. Once you realize this,
what you’ve thought of as reality begins to look like a cheap set on
some ridiculous B movie.”
NSalah satu kreditor terbesar yang khawatir dengan kemampuan AS dalam membayar utang adalah China. Surat kabar utama di China, People’s Daily, mengatakan, kredibilitas obligasi Pemerintah AS sudah hancur sejak krisis sub-prime mortgage.
Namun, kebanyakan negara lain di dunia belum bisa menemukan cara untuk melepaskan ketergantungan pada dollar.
“Meski kepercayaan pada utang AS turun dan lembaga rating akan menurunkan rating AS, kredibilitas dasar tidak berubah. Dollar tetap menjadi mata uang yang kuat,” kata surat kabar itu.
Tapi memang realita yang telah terjadi
sesungguhnya terbukti, bahwa semua produk dunia didominasi dan dijual
belikan dengan patokan mata uang dollar Amerika.
Memang itu yang diinginkan oleh para elit
dunia, agar perekonomian selalu berada dan tergantung dengan dollar
Amerika. Jangan macam-macam jika ada negara atau pemimpin negara di
dunia ini yang tidak menggunakan dollar Amerika, mereka akan dikucilkan
di dunia perekonomian secara global, dulu mirip Libya dan Irak, sekarang
ini mirip Iran dan Korea Utara.
Dengan
adanya ketergantungan dunia terhadap dollar Amerika, maka para elite
dunia akan dapat lebih mudah mengontrol perekonomian dan keuangan dunia.
Maka dengan mudah pula dapat mengontrol manusianya, bahkan rakyat
didalam suatu atau beberapa negara lainnya untuk dapat menentang
pemerintahannya akibat krisis berkepanjangan dan menyusahkan kehidupan
rakyatnya. Padahal apa yang terjadi di negara tersebut adalah akibat
“kebijaksanaan” AS dan negara-negara sekutunya sendiri.
Negara mana yang akan makmur, negara mana
yang akan bangkrut, negara mana yang akan krisis, negara mana yang akan
tergantung dengan ekonomi negara lainnya, dan
pengontrollan-pengontrollan perekonomian sejenisnya secara praktis dapat
dirancanakan dan direalisasi.
Jangan pula kita pikir bahwa Amerika dan
Eropa terkena krisis berkepanjangan artinya para elite mereka juga
terkena dampaknya, tidak! Para elit jauh-jauh sangat kaya, apapun
krisisnya, bagaimanapun level krisis tersebut, mereka tetap kaya dengan
cadangan emas jutaan ton dari hasil pertambangannya seantero dunia,
hanya ditukar dengan kertas, emas dibeli (baca: ditukar) dengan kertas.

Yang terkena krisis di Eropa dan Amerika
Serikat, sejatinya adalah rakyatnya, bukan para elitenya. Namun
pemerintahan rezim monarki dan kapitalis AS justru menaikkan pajak
rakyatnya dengan alasan untuk membayar hutang negara, yang padahal
hutang tersebut dapat dibayar sendiri oleh mereka, para elite pengatur
negara dan rakyatnya.
Zhu Baoliang, kepala ekonom di lembaga
pemerintah State Information Centre, mengatakan, pengurangan belanja AS
sebesar 1 triliun dollar AS selama 10 tahun ke depan tidak cukup untuk
mencegah krisis utang pada masa yang akan datang. “Gagal bayar AS tidak
akan berdampak langsung terhadap China. Tapi, dampaknya akan terlihat
pada jangka panjang,” katanya seperti dikutip China Daily.
Sedangkan Li Xiangyang, seorang peneliti
di Akademi Ilmu Sosial China, mengatakan, politisi AS pada masa depan
bisa mengabaikan kepentingan kreditor dan lebih mengutamakan kebijakan
dalam negeri.
Menurut Li, untuk menghindari perangkap
dollar AS, China harus menghentikan investasi dalam aset dollar pada
masa depan. Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin juga melihat ancaman
serupa.
“AS sudah tak
terkendali dan menumpahkan sebagian beban masalah ke ekonomi dunia. AS
hidup sebagai parasit dari ekonomi global dan monopoli dollar,” ujar
Vladimir Putin.
Putin, yang sering mengkritik kebijakan nilai tukar AS, mencatat, Rusia memegang obligasi dan treasury notes AS dalam jumlah besar. “Jika di Amerika ada masalah sistemik, akan mempengaruhi semua orang.
Negara seperti China dan Rusia menyimpan
cadangan devisa dalam jumlah besar di surat berharga Amerika. Seharusnya
ada mata uang lain sebagai cadangan devisa,” ujarnya. (sumber: wikipedia/ radarlampung/ antara/ maxheartwood.wordpress/ kompas/ kontan.coid/ berbagai sumber)

“Merupakan
hal yang cukup bagus bahwa masyarakat tidak mengetahui sistim perbankan
dan moneter, karena jika mereka mengetahuinya, saya yakin akan ada
revolusi sebelum terbitnya fajar.”
- Henry Ford.
Sumber : indocropcircles
- Henry Ford.
Sumber : indocropcircles
***






















