Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasional. Tampilkan semua postingan

Senin, 08 Juli 2013

Jadwal Imsakiyah Ramadhan 1434H / 2013M

Posted by Unknown 10:14 PM , under | No comments

Rabu, 03 Juli 2013

Ketika Amerika Serikat Tunduk Kepada Indonesia

Posted by Unknown 6:43 PM , under | 1 comment


Bung Karno / Sukarno / Soekarno

Ketika Amerika Serikat Tunduk Kepada Indonesia

Negara digdaya itu dibikin malu Indonesia ketika pilotnya, Allen Pope ditembak jatuh di pulau Morotai. Lebih malu lagi, karena dengan tertangkapnya pilot itu, kedok AS dan CIA akhirnya terbuka.
Kedok yang membuktikan AS melalui CIA sudah main api dengan petualangannya di balik pemberontakan separatisme di Indonesia.
Termasuk juga infiltrasi AS yang mempersenjatai para pemberontak itu. Ini yang bikin Bung Karno geram, dan mulai memainkan kartu trufnya.


Bung Karno dan Ike (Dwight D Eisenhower)
Bung Karno yang tadinya dikerjai Amerika, sekarang balas mengerjai Amerika. Bung Karno sadar, tertangkapnya Allen Pope mendongkrak posisi tawar Indonesia di hadapan Amerika. Cerita selanjutnya adalah bagaimana Ike dan John F. Kennedy jadi repot dibuatnya.
Inilah moment bersejarah ketika Indonesia yang miskin untuk pertama kalinya punya posisi tawar tinggi di hadapan “juragan kaya”, Amerika.
Bung Karno tidak cuma menuntut Amerika mesti minta maaf. Tapi masih ada sederet permintaan lain yang bikin Amerika “maju kena, mundur kena”.
Eisenhower minta Indonesia melepaskan pilot Allen Pope. Tapi Bung Karno tidak mau melepas begitu saja dengan gratis. Pilot itu adalah kartu truf-nya.
Inilah kisah bagaimana Bung Karno dengan amarah “memiting leher Allen Pope” sambil telunjuknya memberi isyarat agar Amerika mau bersimpuh di kaki Bung Karno (tentu saja ini hanya simbolisasi teatrikal).
Gantung Allen Pope! Hukum mati Allen Pope! Begitu gelombang protes di depan kedutaan AS di Jakarta setelah Allen Pope tertangkap. tahun 1958 itu .

Allen Pope
Rakyat Indonesia memang dibikin naik darah oleh kelakuan Allen Pope. Soalnya si pilot ini sudah menjatuhkan bom di Ambon yang memakan tak sedikit korban jiwa.
Di tengah suasana panas itu, teman-teman Mas Tok atau Guntur Soekarnoputra tidak berhenti menjejalinya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar pilot Allen Pope.
Percakapan Bung Karno dengan putra sulungnya berkaitan hal itu, sudah banyak diungkap berbagai sumber. Tapi sebetulnya ada yang lebih penting lagi di balik percakapan antara Bung Karno dan Mas Tok berikut ini…..
Bung Karno sedang mandi. Mas Tok yang masih remaja menggedor-gedor pintu kamar mandi. Tidak sabar. Karena pintu terus digedor, Bung Karno melongok sebentar. “Ada apa tho Mas Tok? Bapak belum selesai mandi”.
Begitu pintu terbuka, Mas Tok langsung menyambar ayahnya dengan pertanyaan, “Bener nggak sih bapak menukar pembebasan Allen Pope dengan tebusan pesawat Hercules?”. Mas Tok memang tidak sabaran ingin segera tahu jawabnya.
Saat itu juga dia harus mendapatkan bocoran jawabannya. Memang sebelumnya di antara teman-temannya, mereka sudah kasak-kusuk membenarkan gosip itu. Mas Tok jadi panas juga. Soalnya sebagai anak Bung Karno, seharusnya dia lebih tahu dari teman-temannya.
Mas Tok yang penasaran tidak perlu menunggu lama menanti jawab ayahnya. Pertanyaan Mas Tok itu langsung disambar dengan tawa khas ayahnya. Menggelegar, “Hahahahaha……biar saja Amerika kasih Hercules itu buat Bapak. Kalau Amerika kirim pesawat lagi, nanti Bapak suruh tembak lagi. Sebagai tebusannya, Bapak minta Marilyn Monroe dan Ava Gardner”.
Marilyn Monroe
Marilyn Monroe
Itu humor khas Bung Karno. Humor seorang negarawan nyentrik. Cara Bung karno bercanda dengan politikus sejawatnya sehari-hari, tidak beda jauh dengan guyonan-nya dengan anak- anaknya. Mas Tok dan adik-adiknya sudah hafal adat ayahnya. Dasar Bung Karno!
Tapi sebetulnya di balik canda itu, mungkin bahkan Bung Karno dan Mas Tok sendiri waktu itu belum menyadari sesuatu.
Yaitu buntut dari posisi tawar Indonesia tadi, Bung Karno telah memulai tonggak lahirnya sejarah armada baru bagi AURI, yaitu lahirnya skuadron Hercules di Indonesia. Armada ini kelak turut punya andil dalam merebut Irian Barat dari Belanda.
Itu semua berawal dari negosiasi tarik ulur demi pembebasan seorang pilot yang bikin Amerika gelisah. Bagaimana tidak? Soalnya kalau tidak segera diselamatkan, bisa-bisa pilot itu buka mulut tentang info rahasia yang berkaitan dengan permainan CIA.

Ava Gardner
Ava Gardner
Dulu serangan Maukar ke Istana didesas-desuskan akibat Bung Karno menggoda tunangan sang pilot. Gosip selanjutnya menghantam Bung Karno lagi. Yaitu pembebasan pilot Allen Pope digosipkan karena Bung Karno dirayu oleh istri Pope, yang sengaja didatangkan dari Amerika. Walaahhh….
Kedengaran kayak gosip murahan. Tapi tunggu dulu! Sejarah kadang memang diwarnai gosip murahan, yang bermuara pada hasil yang tidak murahan.
Konon itulah yang dinamakan intrik politik tingkat tinggi. Intrik yang menggunakan sisi kelemahan Bung Karno. Kelemahan apalagi kalau bukan soal perempuan? Mentang-mentang Bung Karno mata keranjang…..
Bung Karno memang mata keranjang. Tapi pihak yang anti Bung Karno kadang memanipulasi sisi ini secara berlebihan. Sama halnya CIA yang menggunakan kelemahan Don Yuan-nya Bung Karno untuk menjatuhkan kredibilitas presiden RI di mata rakyatnya.
Menjatuhkan Bung Karno adalah satu-satunya cara agar Amerika bisa bercokol kuat di Indonesia. Sudah dicoba segala cara agar Bung Karno jatuh, tidak berhasil juga. Dicoba dengan cara ancaman embargo, penghentian bantuan…..ehhh Bung Karno malah teriak, “Go to hell with your aid!”.


Go to hell with your aid!
Akhirnya CIA pakai cara lain. Yaitu infiltrasi ke berbagai pemberontakan di Indonesia. Puncaknya terjadi dalam pertempuran di pulau Morotai, tahun 1958.
Ketika itu TNI (pasukan marinir, pasukan gerak cepat AU, dan AD) menggempur Permesta, gerakan pemberontakan di Sulawesi Utara.
Persenjataan Permesta tidak bisa dianggap enteng. Soalnya ada bantuan senjata dari luar.
Tadinya tudingan bahwa CIA adalah biang kerok semua ini masih dugaan saja. Ketika kapal pemburu AL dan mustang AU melancarkan serangannya, satu pesawat Permesta terbakar jatuh.
Sebelum jatuh, ada dua parasut yang tampak mengembang keluar dari pesawat itu. Parasut itu tersangkut di pohon kelapa. TNI segera membekuk dua orang. Yang satu namanya Harry Rantung anggota Permesta.
Dan yang tak terduga, satunya lagi bule Amerika. Itulah si pilot Allen Pope. Dari dokumen-dokumen yang disita, terkuak Allen Pope terkait dengan operasi CIA. Yaitu menyusup di gerakan pemberontakan di Indonesia untuk menggulingkan Soekarno.
Tak pelak lagi, tuduhan bahwa Amerika dengan CIA adalah dalang pemberontakan separatis, bukan isapan jempol!
Peristiwa tertangkapnya Allen Pope adalah tamparan bagi Amerika. Itu mungkin terwakili dalam kalimat Allan Pope ketika tertangkap. Setelah pesawat B-26 yang dipilotinya jatuh dihajar mustang AU dan kapal pemburu AL, komentar Pope: “Biasanya negara saya yang menang, tapi kali ini kalian yang menang”. Setelah itu dia masih sempat minta rokok.


B-26 Permesta kena tembak (ilustrasi)
Tapi sebetulnya yang lebih bikin malu Amerika bukan soal kalah yang dikatakan Pope tadi. Tapi tertangkapnya Allan Pope mengungkap permainan kotor AS untuk menggulingkan Soekarno. Amerika terus ngeyel menyangkal. Tapi bukti-bukti yang ada, akhirnya membungkam mulut Amerika.
Taktik kotor itu jadi gunjingan internasional. Tanpa ampun, kedok Amerika dengan CIA-nya berhasil dibuka Indonesia, lengkap dengan bukti-bukti telak.
Amerika terpaksa berubah 180 derajat menjadi baik pada Soekarno. Semua operasi CIA untuk mengguncang Bung Karno (untuk sementara) dihentikan.
Amerika berusaha mati-matian minta pilotnya dibebaskan. Segala cara pun mulai dilakukan untuk mengambil hati Bung Karno. Eisenhower mengundang Soekarno ke AS bulan Juni 1960.
Lalu Soekarno juga diundang John Kennedy di bulan April 1961. Di balik segala alasan diplomatik tentang kunjungan itu, tak bisa disangkal itu semua buntut dari cara Bung Karno memainkan kartunya terhadap Amerika.
Selama periode itu, Bung Karno main tarik ulur dengan pembebasan Pope. Tarik ulur itu berjalan alot. Karena Bung Karno ogah melepaskan Pope begitu saja. Bung Karno sengaja berlama-lama “memiting leher” Allan Pope sebelum Amerika meng-iya-kan permintaan Indonesia.
Amerika mati kutu. Tak ada jalan lain. Negosiasi pun segera dimulai. Negosiasi alot yang memakan waktu 4 tahun, sebelum akhirnya Allen Pope benar-benar bebas.
Dimulai dengan Ike atau Eisenhower yang membujuk, merayu dan mengundang Bung Karno ke Amerika.
Bung Karno geram. Ike (Dwight D Eisenhower) mencoba merayunya, “Tolong bebaskan pilotku”. Tapi Bung Karno tetap saja geram.
Mungkin juga karena yang merayu Soekarno adalah Ike, seorang pria tua. Ike itu adalah nama panggilan D. Dwight Eisenhower, presiden AS di masa itu. Kali ini Amerika memang kena batunya.
Namun sesudahnya Bung Karno tetap tidak mau tunduk diatur-atur Ike. Situasi mulai berubah sedikit melunak setelah kursi kepresidenan AS beralih ke John F. Kennedy.


Soekarno bersama JFK, John F Kennedy
John Kennedy tahu, kepribadian Soekarno sangat kuat dan benci di-dikte. Karena itu dengan persahabatan dia mampu “merangkul” Soekarno. “Kennedy adalah presiden Amerika yang sangat mengerti saya”, kata Bung Karno.
Dengan John, negosiasi mulai mengarah ke titik terang. Berkaitan itu pula, John mengirim adiknya Robert Kennedy ke Jakarta. Robert membawa sejumlah misi, diantaranya: “bebaskan Pope”.
Konon ketika itu juga Amerika mengirim istri Allen Pope yang cantik. Perhitungannya, wanita cantik mampu meluluhkan hati Bung Karno. Ini asal mula beredar issue bahwa Bung Karno dirayu istri Allen Pope.
Yang tidak banyak disebutkan orang, yaitu ibu dan saudara perempuan Allen Pope juga datang memohon-mohon dengan tangisan minta belas kasihan Bung Karno.
Buat Bung Karno, pilot itu dibebaskan atau tidak dibebaskan, hasilnya sama saja. Yaitu tidak membuat korban-korban bom si pilot bisa hidup kembali. Jadi kenapa tidak memanfaatkan saja ketakutan Amerika yang ciut kalau pilot itu buka mulut?


Robert Kennedy dan istri (di belakang Soekarno)
Bung Karno memainkan kartu trufnya atas dasar apa yang dibutuhkan bangsa Indonesia pada waktu itu. Indonesia betul-betul sengsara dan kelaparan, jadi butuh uang dan nasi.
Indonesia sedang bertempur melawan Belanda untuk merebut Irian Barat. Jadi butuh senjata, sejumlah perangkat perang dan armada tempur.
Permintaan Bung Karno itu tentu saja tidak disampaikan dengan cara mengemis. Tapi dengan cara yang menyeret Amerika untuk membuat interpretasi diplomatik. Mau tidak mau, isyarat diplomatik Soekarno bikin Amerika harus bisa membaca yang tersirat di balik yang tersurat.
Dibanding Ike alias Eisenhower, John Kennedy lebih peka membaca isyarat itu. Itulah yang dimaksud Bung Karno bahwa John Kennedy mengerti dirinya. Kennedy tidak cuma sekedar mengundang Bung Karno ke Amerika untuk plesiran. Tapi juga ada tindak lanjut nyata di balik undangan diplomatik itu.
John paham Indonesia butuh perangkat perang untuk merebut Irian Barat. Di antaranya armada tempur. Karena itu diajaknya Bung Karno mengunjungi pabrik pesawat Lockheed di Burbank, California. Di sana Bung Karno dibantu dalam pembelian 10 pesawat hercules tipe B, terdiri dari 8 kargo dan 2 tanker.

Sukarno and JFK Keneddy
John F Kennedy dan Sukarno di pabrik Lockheed, Burbank, California.
Negosiasi pembebasan Allen Pope antara Ike dan Bung Karno tadinya alot. Tapi jadi licin jalannya dengan John. Dia tidak pelit membalas “kebaikan” Bung Karno yang memenuhi permintaan AS untuk membebaskan Allen Pope.
Hasilnya? Hercules dari Amerika, menjadi cikal bakal lahirnya armada Hercules bagi AURI (armada yang kelak ikut bertempur merebut Irian Barat). Bung Karno bisa membuat Amerika menghentikan embargo.
Lalu menyuntik dana ke Indonesia. Juga beras 37.000 ton dan ratusan persenjataan perangkat perang. Kebutuhan itu semua memang sesuai dengan kondisi Indonesia saat itu.


Allen Pope diadili
Ternyata begini ini yang namanya negosiasi tingkat tinggi. Akhirnya Allen Pope dibebaskan secara diam-diam oleh suatu misi rahasia di suatu subuh, Februari 1962.
Negosiasi itu seluruhnya tentu makan biaya yang tidak sedikit. Siapa yang mesti membayar semua itu? Konon rekening Permesta yang harus membayar ganti rugi akibat negosiasi itu.
Sempat terdengar selentingan bahwa jalan by pass Cawang-Tanjung Priok dan Hotel Indonesia lama di Bundaran HI Thamrin, adalah wujud dari ganti rugi itu. Benarkah demikian? Wallahu a’lam.
Sayang hubungan mesra Bung Karno dengan Amerika berakhir setelah Kennedy terbunuh tahun 1963 yang disinyalir dilakukan oleh CIA. Terbunuhnya Kennedy membuat CIA kembali leluasa mewujudkan mimpi lama yang sempat terhenti. Yaitu terus mengguncang kursi Bung Karno, hingga Putra Sang Fajar itu akhirnya benar-benar terbenam. Kita semua tahu bagaimana akhir episode itu. (malemminggu.wordpress)

Sumber : indocropcircles

Misteri Supersemar, Surat Perintah 11 Maret 1966

Posted by Unknown 6:33 PM , under | No comments

suharto supersemar header 
Keraguan akan keaslian naskah Supersemar yang disimpan Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) muncul setelah tumbangnya Orde Baru (Orba) pada 1998. Keraguan publik soal otentisitas surat perintah dari Presiden Soekarno ke Menteri Panglima Angkatan Darat, Letjen Soeharto, dikala itu semakin diperkuat oleh beberapa saksi sejarah bekas tahanan politik Orba yang akhirnya buka suara.

Tiga Versi Supersemar, Misteri Lebih Dari Empat Puluh Tahun
Lebih dari empat puluh tahun berlalu, misteri Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) hingga kini belum juga terpecahkan. Di mana naskah asli surat tersebut juga masih belum bisa ditemukan.
Sejumlah versi proses terbitnya Supersemar pun beredar. Entah siapa yang benar. Namun dari sejumlah keterangan, yang tidak bisa dibantah adalah Supersemar yang disimpan di ANRI adalah palsu.
Supersemar yang disimpan di etalase arsip negara itu kini ada tiga versi versi:
Versi Pertama, yakni surat yang berasal dari Sekretariat Negara. Surat itu terdiri dari dua lembar, berkop Burung Garuda, diketik rapi dan di bawahnya tertera tanda tangan beserta nama Sukarno.
Versi Kedua, berasal dari Pusat Penerangan TNI AD. Surat ini terdiri dari satu lembar dan juga berkop Burung Garuda. Ketikan surat versi kedua ini tampak tidak serapi pertama, bahkan terkesan amatiran. Jika versi pertama tertulis nama Sukarno, versi kedua tertulis nama Soekarno.
Versi Ketiga, lebih aneh lagi. Surat yang terakhir diterima ANRI itu terdiri dari satu lembar, tidak berkop dan hanya berupa salinan. Tanda tangan Soekarno di versi ketiga ini juga tampak berbeda dari versi pertama dan kedua.
Kepala ANRI (Arsip Nasional Republik Indonesia), M Asichin, memastikan ketiga surat itu adalah Supersemar palsu. “Sebab, lazimnya surat kepresidenan, seharusnya kop surat Supersemar berlambang bintang, padi dan kapas. Bukannya Burung Garuda. Apalagi yang polosan seperti yang terakhir,” kata Asichin di Jakarta, Sabtu (10/3/2012).
Dari segi isi, kata Asichin, beberapa versi Supersemar tersebut relatif sama. Hanya ada perbedaan dari versi pertama dan kedua. Surat pertama terdiri dari empat poin yakni:
I. Mengingat,
II. Menimbang,
III. Memutuskan/Memerintahkan dan
IV. Selesai.
“Bedanya, di versi kedua tidak ada IV. Selesai,” ujar Asichin.
Benedict Anderson, pakar sejarah Indonesia asal Amerika Serikat, pernah mengatakan Supersemar asli sengaja dihilangkan. Hal itu didapatkan Anderson dari pengakuan seorang tentara yang bertugas di Istana Bogor, tempat Supersemar dibuat.
Tanpa menyebut nama dan pangkat tentara tersebut, Anderson mengatakan, Supersemar asli berkop surat Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Bukan kop surat dengan lambang Burung Garuda seperti yang ada sekarang.
Jelas keterangan ini menyudutkan Soeharto, yang saat itu menjabat Panglima Angkatan Darat. Sebab, dengan Supersemar berkop surat MBAD menunjukkan surat perintah itu memang diinginkan oleh Soeharto. Apalagi, muncul versi Soekarno dipaksa oleh beberapa jenderal utusan Soeharto untuk meneken Supersemar di bawah todongan senjata.
Jenderal M Jusuf, salah satu petinggi AD yang menemui Soekarno di Istana Bogor, pernah mengklaim memiliki naskah Supersemar. ANRI pernah berkali-kali meminta keterangan kepada Menteri Perindustrian Kabinet Dwikora itu. Namun, hingga akhir hayat M Jusuf pada 8 September 2004, upaya itu gagal.
Pada 31 Agustus 2005, ANRI pernah memawancarai keponakan M Jusuf, Andi Heri di Makassar. “Namun pengakuan keluarga katanya kami tidak pernah menyimpan”, ujar Asichin.
Pada 2008, pengakuan lain dibuat oleh Ubaydillah Thalib, putra Salim Thalib, staf intel Komando Operasi Tertinggi Gabungan-5 (G-5 KOTI). Thalib mengatakan ayahnya, yang meninggal 2002 lalu, pernah bercerita kepadanya bahwa Supersemar yang ada selama ini adalah palsu.
“Teks itu tidak tersusun rapi seperti yang sekarang beredar, tapi memang diketik,” ujar Ubay saat itu.
Menurut Ubay, ayahnya sempat melihat sekilas teks tersebut saat diperintahkan oleh Letkol Sudharmono untuk menyimpan di ruangannya. “Tapi sayangnya yang melihat teks Supersemar itu hanya beberapa orang,” kata Ubay.
Cek Kosong Untuk Soeharto
Soekarno memberi surat lanjutan bahwa Supersemar bersifat teknis/administratif semata, bukan politis.
Kontroversi Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) tidak hanya seputar keberadaan (fisik) surat itu, namun juga soal isinya. Tiga versi Supersemar yang disimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) secara isi memang sama, yakni perintah untuk mengamankan negara. Namun, bagaimana tafsir atas isi surat tersebut?
Seperti diketahui, Supersemar telah dijadikan alat pembenaran bagi Soeharto, si penerima, untuk memberangus Partai Komunis Indonesia (PKI), menangkap 15 menteri yang dianggap beraliran kiri dan loyal terhadap Presiden Soekarno serta mengawasi pemberitaan di media massa saat itu.
Melihat langkah Soeharto itu, Soekarno segera mengeluarkan surat lanjutan dua hari berikutnya atau 13 Maret 1966 (Wisnu: 2010). Surat yang berisi tiga poin penting ini dibawa oleh Wakil Perdana Menteri II, Dr J Leimena, dan diserahkan kepada Soeharto.
Surat itu pada intinya mengingatkan Soeharto bahwa:
Pertama, Supersemar bersifat teknis/administratif semata, bukan politis. Surat semata-mata berisi perintah untuk mengamankan rakyat, pemerintah dan presiden.
Kedua, surat juga mengingatkan pembubaran partai politik harus atas seizin presiden.
Ketiga, Soeharto diminta datang menghadap presiden untuk memberikan laporan.
Surat yang tidak banyak diketahui publik ini akhirya tak digubris Soeharto. Semua tahu bahwa setahun setelah penyerahan Supersemar atau 12 Maret 1967, Soeharto diangkat sebagai Presiden menggantikan Soekarno tanpa proses pemilu.
Sejarawan Asvi Warman Adam (2009) menilai Supersemar seperti blanko cek kosong yang bisa diisi semaunya oleh Soeharto. Hal ini terlihat dalam frasa “mengambil tindakan yang dianggap perlu” dalam poin perintah pertama surat itu.
Supersemar, kata Asvi, akhirnya ditafsirkan bukan hanya sebagai perintah pengamanan, namun juga pemindahan kekuasaan (transfer of authority). Brigjen Amir Machmud, salah satu orang dekat Soeharto, setelah melihat surat itu menilai surat itu bernada penyerahan kekuasaan.
Menurut Asvi, seharusnya surat kepada militer jelas batas dan jangka waktu pelaksanaannya. Poin ketiga surat lanjutan Soekarno pada 13 Maret 1966 menunjukkan sang presiden telat menyadari ketidakjelasan jangka waktu pelaksanaan Supersemar.
Namun keterangan Wakil Perdana Menteri I, Soebandrio, setelah lepas dari tahanan Orde Baru, menunjukkan Sang Pemimpin Besar Revolusi tak seceroboh itu. Menurutnya, Supersemar terdapat frasa “setelah keadaaan terkendali, Supersemar diserahkan kembali kepada Presiden Soekarno.” Ketarangan Soebandrio itu dibenarkan oleh Pangkostrad Letjen Kemal Idris.
Kontroversi isi Supersemar ini akhirnya membuat persepsi bahwa Supersemar palsu sengaja dibuat mengarahkan ke transfer of authority. Sementara yang asli jelas merupakan perintah mengamankan negara atau delegation of authority. Ini pula yang diamini Roeslan Abdul Gani, salah satu menteri Soekarno saat itu.
Siapa yang mengetik Supersemar?
Kontroversi keberadaan (fisik) dan isi Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) juga diikuti dengan misteri siapa yang mengetik surat sakti itu. Namun, dari sekian lama kontroversi bergulir, baru satu orang yang mengaku mengetik surat itu. Dia adalah Letkol (Purn) Ali Ebram.
Saat Supersemar terbit, Ebram adalah Asisten I Intelijen Resimen Cakrabirawa. Dia mengaku mengetik Supersemar dengan didiktekan Presiden Soekarno. Ebram, yang tidak terbiasa mengetik, mengaku gemetar saat menekan tombol-tombol mesin cetak itu.
Dalam ‘Kudeta Supersemar’ (Wisnu: 2010) diceritakan, Ebram mengaku dipanggil oleh bosnya Komandan Resimen Cakrabirawa, Brigjen Sabur, untuk membawa mesin tik dan kertas berkop kepresidenan ke paviliun Hartini, ruang pribadi presiden di Istana Bogor. Ebram mengetik surat itu selama satu jam.
Menurut pengakuannya, di ruang lain, tiga petinggi Angkatan Darat yakni Brigjen M Jusuf, Brigjen Amirmachmud dan Brigjen Basuki Rahmat, sudah menunggu. Keterangan Ebram klop dengan pengakuan Amirmachmud bahwa saat menunggu, ia melihat presiden masuk ke kamar dalam waktu yang cukup lama.
Namun, Komandan Detasemen Kawal Pribadi Presiden, Mangil Martowidjojo, mengatakan lain. Mangil mengatakan, sang pengetik adalah Sabur sendiri. Dengan membawa kertas dan mesin tik, kata Mangil, Sabur mengatakan sedang membuat surat perintah. Sabur, kata dia, mengetik hasil koreksi Supersemar setalah Soekarno mendiskusikan versi awal kepada tiga jenderal itu bersama dua wakil perdana menteri, Soebandrio dan Chaerul Saleh.
Sementara itu, Soebandrio, yang mengaku turut mengoreksi, mengaku tidak tahu siapa yang mengetik Supersemar. Dia hanya mengetahui Supersemar diketik oleh salah satu staf di Istana Bogor.
Sedangkan Benedict Anderson, pakar sejarah Indonesia asal Amerika Serikat, mengatakan lain. Dari pengakuan seorang tentara di Istana Bogor, Anderson mengatakan, Supersemar asli berkop surat Markas Besar Angkatan Darat (MBAD). Keterangan ini secara tidak langsung membantah Ebram sebagai pengetik Supersemar karena ia mengaku mengetik surat itu di atas surat berkop kepresidenan.
Namun sayang, Anderson tidak mau mengungkapkan siapa tentara pemberi informasi tersebut, berikut pangkatnya.
Pistol di Dada Soekarno
Dada Soekarno malam itu mungkin tak sebusung waktu ia mengatakan “ini dadaku mana dadamu” kepada Malaysia. Dini hari, 11 Maret 1966 di Istana Bogor, pistol FN-46 itu ditodongkan Brigjen Basuki Rachmat ke dada sang presiden. Soekarno dipaksa untuk meneken sebuah surat di dalam map merah jambu.
Dalam “Mereka Menodong Soekarno” Letnan Satu (lettu) Sukardjo Wilardjito, pengawal presiden yang berjaga malam itu, mengaku langsung mencabut pistolnya. Namun, Soekarno menyuruh pengawalnya itu untuk memasukkan kembali ke sarungnya.
Sukardjo Wilardjito 
Saat membaca isi naskah di map merah itu, kata dia, Soekarno sempat bertanya “Lho, diktumnya kok diktum militer, bukan diktum kepresidenan!” Secara refleks, kata Sukardjo, ia melihat naskah tersebut.
Kop surat, kata dia, tidak ada lambang kepresidenan. Dia justru melihat kop Markas Besar Angkatan Darat (MBAD) di sisi kiri atas surat tersebut.
“Untuk mengubah waktunya sudah sangat sempit. Tandatangani sajalah, Paduka. Bismillah,” kata Basuki Rachmat, yang ditemani Brigjen Amirmachmud, Brigjen M Jusuf dan M Panggabean.
Surat yang kemudian dikenal dengan Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) itu akhirnya diteken oleh Soekarno. Keempat jenderal utusan Soeharto itu lantas membawa surat dengan sumringah. Setelah kejadian itu, Soekarno langsung mewanti-wanti Sukardjo.
“Kamu harus keluar dari istana, dan kamu harus hati-hati,” ujar Sukardjo menirukan pesan Soekarno saat itu.
Dan benar saja, tak lama setelah kejadian itu, Sukardjo dilucuti oleh pasukan Kostrad dan RPKAD untuk kemudian ditahan. Dia dipenjara oleh Orde Baru tanpa peradilan selama 14 tahun. Selama ditahan, ia menerima penyiksaan, seperti disetrum puluhan kali dan dipaksa mengaku PKI.
Meski banyak yang membantah cerita tersebut, setidaknya itulah kesaksian dari Sukardjo, pengawal presiden, yang kedatangan tamu empat jenderal pada pukul 01.00 WIB. Selain soal pistol, kesaksian yang paling diragukan adalah kehadiran Brigjen M Panggabean. Dari beberapa versi cerita, cuma Sukardjo yang mengatakan kehadiran Panggabean di Istana Bogor. Jadi bukan 3 orang Jenderal, namun 4 orang Jenderal.
Namun, tak sedikit juga yang memperkuat kesaksian Sukardjo. Mereka yang memperkuat kesaksian Sukardjo adalah R Seoekiram, S Ponirah, Soeprapto Karto Siswoyo dan Rian Ismali. Keempatnya merupakan purnawirawan CPM dan TNI AD.
Akibat pengakuannya yang menghebohkan usai reformasi pecah pada 1998 itu, Sukardjo sempat menghadapi proses hukum atas tuduhan menyebarkan berita bohong. Namun, ia berhasil lolos dari jeratan hukum karena tuduhan itu tidak terbukti.
Sukardjo Wilardjito - pic by antarafoto
Kesaksian Sukardjo Wilardjito
Letda Inf Sukardjo Wilardjito 
Pintu kamar Bung Karno diketuk pengawal. Ada perwira Angkatan Darat yang ingin bertemu presiden. Mereka diutus oleh Suharto. Ada map merah muda di tangan salah seorang jendral. Di dalamnya berisi naskah yang mesti ditandatangani Sukarno.
Naskah itu tidak segera ditandatangani Sukarno. Dia sempat bertanya tentang mengapa kop surat itu dari Markas Besar Angkatan Darat. Seharusnya Surat Perintah itu ber-kop surat kepresidenan.
Tapi pertanyaan Sukarno hanya dijawab Jendral Basuki Rachmat, “Untuk membahas, waktunya sangat sempit. Paduka tandatangani saja”.
Kesaksian ini dituturkan Sukardjo Wilardjito, mantan pengawal Presiden Sukarno.
Sesudah jatuhnya Sukarno, Sukardjo pernah dipenjara oleh rezim Orba selama 14 tahun tanpa proses pengadilan, termasuk menjalani beragam penyiksaan, disetrum puluhan kali dan dipaksa mengaku PKI.
sukarno tandatangani supersemar 
Sukardjo ini pernah mengejutkan orang dengan kesaksiannya yang bersikukuh menyatakan Basuki Rachmat dan Panggabean menodongkan pistol ke muka Sukarno karena ia bimbang untuk menandatangani.
Melihat itu, Sukardjo sebagai pengawal presiden secara refleks mencabut pistol untuk melindungi presiden.
Namun Sukardjo meletakkan pistolnya kembali, karena Sukarno tidak ingin melihat pertumpahan darah.
Surat yang akhirnya ditandatangani Sukarno itu dikenal kemudian dengan nama Supersemar. Surat Perintah Sebelas Maret.
Sukardjo juga bersaksi bahwa yang menghadap Sukarno adalah empat jendral dan bukan tiga jendral seperti yang disebutkan selama ini.

Jendral M. Yusuf (wikipedia)
Keempat jendral utusan Suharto itu adalah:
  1. Muhammad. Yusuf
  2. Maraden Panggabean
  3. Amir Machmud dan
  4. Basuki Rachmat.
Biarpun ada yang masih meragukan kesaksian Sukardjo itu, tapi dia tetap berpegang pada kesaksiannya itu. Kemudian malah menulis kesaksiannya di bukunya berjudul “Mereka Menodong Bung Karno”.
Kesaksian Sukardjo bahwa Sukarno ditodong, pernah dibantah M. Yusuf dan Panggabean sendiri.
Kesaksian itu juga dibantah oleh A.M. Hanafi mantan Dubes RI di Kuba, dalam bukunya “Hanafi Menggugat”. Sehingga kebenaran kesaksian Sukardjo itu masih perlu ditelusuri lagi. Benarkah demikian?
Ditodong atau tidak, rasanya Sukarno bukan orang yang mudah digertak. Bagaimanapun, apapun alasan Sukarno menandatangani naskah Supersemar, pada dasarnya kesaksian Sukardjo itu menggambarkan situasi yang tidak kompromistik.

Jendral Maraden Panggabean (wikipedia)
Situasi yang membuat Sukarno terjepit. Tak ada waktu bernegosiasi. Pokoknya teken sekarang! Ada bau konspirasi di balik itu. Dan hasilnya adalah lahirnya Surat Perintah 11 Maret atau Supersemar. Bung Karno menyebutnya dengan istilah SP Sebelas Maret.
Sesudah menandatangani surat itu, Bung Karno masih sempat mengatakan, bahwa surat itu mesti dikoreksi kalau keadaan sudah pulih.
Permintaan itu tidak pernah terwujud, karena ketika menandatangani surat itu, tanpa disadari Sukarno sedang menandatangani kejatuhannya.
Sesudah penandatanganan Supersemar, boleh dikatakan “wahyu sebagai pemimpin” seakan sudah tercabut dari Sukarno.
Sebagai presiden, Sukarno sudah menandatangani ribuan surat. Tapi tandatangannya di surat yang satu ini, Supersemar, menjadi pedang yang menghunus kekuasaannya sendiri.

Jendral Amir Machmud (wikipedia)

Kita tahu, Supersemar adalah surat mandat Sukarno pada Suharto untuk mengamankan negara yang kacau akibat G30S PKI.
Belakangan mandat Supersemar ini ternyata dijadikan legitimasi untuk mengambil alih kekuasaan yang menyingkirkan Sukarno.
Dengan Supersemar itu Suharto memperoleh surat sakti, kemudian bergerak cepat meraih kursi presiden.
Bung Karno yang sadar bahwa Supersemar ternyata dimanipulasi, dalam pidatonya berteriak “Jangan jegal perintah saya!
Jangan saya dikentuti!”. Ini ekspresi kemarahan Sukarno kepada orang-orang yang dianggapnya telah menipunya, melangkahinya dan membangkang perintahnya.
Menjelang kejatuhannya, Bung Karno mulai agak kehilangan kontrol diri. Itu tampak dari pidato-pidatonya yang emosional. Tampaknya Bung Karno mulai frustrasi. Dia sudah mulai merasa ditinggalkan dan dikhianati oleh orang-orang sekitarnya.

Jenderal Basuki Rahmat (wikipedia)
Salah satunya yang bikin Sukarno merasa dikentuti, seperti katanya, adalah Supersemar tadi. Bagaimana tidak? Bung Karno merasa Supersemar diplintir!
Padahal Supersemar dimaksudkan Sukarno untuk memberi mandat pada Suharto agar segera memulihkan keamanan negara, bukan melengserkannya.
Kecurigaan presiden Sukarno bahwa ada persekongkolan yang berniat memanipulasi Supersemar, tercermin dari pidatonya.
Ketika itu Bung Karno mulai melihat tanda-tanda Supersemar yang disebutnya SP 11 Maret itu mulai “dimainkan” oleh Suharto. Karena itu Bung Karno menekankan berkali-kali, dirinya tidak bermaksud mengalihkan kekuasaannya pada Suharto.
Kata Bung Karno, “Dikiranya SP Sebelas Maret adalah surat penyerahan pemerintahan. Dikiranya SP Sebelas Maret itu, suatu transfer of sovereignty. Transfer of authority. Padahal TIDAK! SP Sebelas Maret adalah suatu perintah. SP Sebelas Maret adalah suatu perintah pengamanan. Perintah pengamanan jalannya pemerintahan. Pengamanan jalannya ini pemerintahan. Seperti kukatakan dalam pelantikan kabinet. Kecuali itu juga perintah pengamanan keselamatan pribadi Presiden. Perintah pengamanan wibawa Presiden. Perintah pengamanan ajaran Presiden. Perintah PENGAMANAN beberapa hal”.
Berdasarkan pidato Sukarno di atas, timbul kecurigaan orang. Mungkinkah Supersemar “sengaja” dinyatakan hilang? Betulkah naiknya Suharto sebagai presiden adalah inskonstitusional karena bertentangan dengan amanat Supersemar? Dan karenanya Supersemar mesti lenyap secara misterius? Apakah bisa dipercaya begitu saja bahwa dokumen negara sepenting itu bisa hilang?
Dua naskah Supersemar di Arsip Nasional disebutkan hanya fotocopy. Yang janggal, dua naskah itu tidak mirip karena diketik dengan spasi berbeda. Pertanyaannya, yang manakah di antara kedua naskah itu yang otentik? Atau apakah malah keduanya sama-sama tidak otentik?
Menurut kesaksian staf intel Komando Operasi Tertinggi Gabungan-5 (G-5 KOTI) Salim Thalib, naskah Supersemar yang dikenal sekarang adalah palsu. Selain aslinya tidak serapi itu, isi naskah juga tidak sama dengan naskah aslinya.
Jadi betulkah tuduhan beberapa kalangan yang menyamakan ini dengan usaha penghilangan barang bukti? Kalau memang Supersemar tidak diplintir, apa buktinya bahwa Supersemar itu tidak diplintir?
Sebetulnya kenapa Supersemar itu mesti dirancang dan Sukarno mesti dipaksa menandatangani? Ada banyak teori konspirasi rumit tentang ini. Tapi saya tertarik dengan teori berikut ini.
Persaingan PKI dan Angkatan Darat
Latar belakangnya tak lepas dari persaingan antara PKI dan Angkatan Darat. Sebelum terjadinya G30S, persaingan antara PKI dan Angkatan Darat sudah dalam taraf saling jegal menjegal. Bahkan PKI sampai ingin membangun “Angkatan Kelima” dalam militer.
PKI ingin menggeser Angkatan Darat. Dan Angkatan Darat ingin menggeser PKI. Apalagi ketika itu Sukarno sudah mulai sakit-sakitan. Mungkin usianya tidak lama lagi. Pokoknya siapa cepat, dia dapat. Antara PKI dan Angkatan Darat sudah betul-betul sikut-sikutan.
Begitu meletus konspirasi G-30S, inilah kesempatan Angkatan Darat untuk menghancurkan saingan beratnya itu. Tak ada ampun, pokoknya PKI harus musnah. Dan penghancuran itu akan lebih afdol jika presiden sendiri yang mengumumkan pembubaran PKI. Soalnya yang punya hak untuk membubarkan partai politik cuma presiden. Itu adalah hak prerogatif presiden. Tapi tunggu punya tunggu, Sukarno kok belum mau juga membubarkan PKI. Bagaimana ini?
Angkatan Darat melalui tangan Suharto pun mengambil jalan pintas. Potong kompas. Caranya, harus dibuat sebuah surat perintah yang telah terkonsep, yang membuat Angkatan Darat jadi punya alasan yuridis melibas PKI. Konsep surat itu pun dibuat. Konsep Supersemar. Isinya perintah presiden kepada Angkatan Darat (Suharto) untuk mengamankan negara.
Nah, dengan dalih mengamankan negara inilah Angkatan Darat jadi punya alasan mengganyang habis PKI. Angkatan Darat memang berlomba dengan waktu. Harus bergerak cepat. Kalau tidak, PKI bisa kembali bangkit mengumpulkan kekuatan dan mendepak jauh-jauh Angkatan Darat dari panggung kekuasaan. Now or never! Jadi sekarang Angkatan Darat tidak boleh kalah cepat!
Setelah itu Suharto memerintahkan para Jendral tadi untuk membawa surat itu kepada Sukarno. Dengan pesan khusus, “pokoknya harus ditandatangani Sukarno”.
Begitu Supersemar ditandatangani, itulah awal aksi pedang Orba. Nampaknya tanda tangan Sukarno tadi adalah pembuka jalan bagi pelaksana Supersemar untuk mengamankan yang bisa diamankan. Sesudah itu terjadi tragedi mengenaskan.
Di segala pelosok negeri berkubang darah jutaan rakyat dengan alasan pembasmian PKI demi keamanan negara. Korbannya tidak saja PKI, tapi juga orang-orang yang tiba-tiba di-PKI-kan atau dipaksa mengaku PKI. Berjuta rakyat mendadak tak bermasa depan dan terampas haknya karena dicap PKI.
Tak kurang Sukarno sendiri turut menjadi korban. Sukarno mengatakan dia mengutuk sekeras-kerasnya Gestok (G30S PKI). Pelakunya harus dihukum, kalau perlu ditembak mati. Tapi orang yang memperuncing peristiwa G30S PKI, hingga terjadi provokasi membenarkan pembunuhan jutaan rakyat juga harus diadili. Apakah Sukarno bermaksud menujukan ini pada Suharto?
Yang jelas, sesudah pernyataan Sukarno itu, terjadi de-Sukarnoisasi. Kita tahu bagaimana Sukarno diisolasi, dituduh terlibat G-30 S PKI tanpa bukti yuridis.
Tentu saja tuduhan itu aneh. Karena bagaimana mungkin Sukarno dituduh melakukan kudeta terhadap dirinya sendiri? Buntutnya, semua yang berhubungan dengan Sukarno menjadi tabu dibicarakan di masa Orba. Bahkan beberapa departemen men-non-aktif-kan pegawai yang ketahuan pro-Sukarno.
Suharto dan Amerika
Setelah skenario berjalan seperti harapan, “para perancang” Supersemar lalu mabuk kemenangan. PKI yang dulu jadi saingan utamanya untuk merebut “kursi Sukarno” sudah tersungkur. Dan Sukarno sang pemilik kursi juga sudah dipaksa meninggalkan kursinya. Suharto tak menyia-nyiakan kesempatan. Kursi yang kosong tanpa pemilik itu harus diapakan lagi kalau bukan diduduki?
Dan ketika kursi Sukarno tadi diduduki Suharto, di situlah awal mula kasak kusuk politik tentang “penyelewengan Supersemar”. Apakah betul tuduhan bahwa ada permainan sistematis Amerika di balik semua ini?
Yang jelas, dengan diselewengkannya maksud Supersemar, yang paling berbahagia adalah Amerika. Karena itu berarti jatuhnya Sukarno. Akhirnya mimpi Amerika terkabul sudah. Terang-terangan Amerika menyatakan jatuhnya Sukarno sebagai kemenangan Amerika. Presiden Richard Nixon menggambarkan kemenangan itu sebagai, “Hadiah terbesar dari Asia Tenggara”.
Sudah jelas. Karena hadiah sesungguhnya terletak pada kekayaan alam Indonesia yang menanti untuk dikuras. Dan batu penghalang yang menghalang-halangi Amerika menguras alam Indonesia, yaitu Sukarno, sudah dibikin terjungkal. Inilah awal kemenangan Amerika yang sejak 10 tahun sebelumnya ingin menggulingkan Sukarno.
Bung Karno berhasil mengusir penjajahan Belanda. Tapi setelah itu Bung Karno ambruk oleh Amerika. Mungkin karena cara Amerika lebih cerdik. Soalnya Amerika tidak memegang gagang keris secara langsung untuk menikam Sukarno. Keris itu diserahkannya kepada rakyat Sukarno sendiri, yang menghujamkannya langsung ke presidennya sendiri, di antaranya melalui provokasi perebutan kekuasaan dan akhirnya menunggangi G-30S.
Pasca G30S, rakyat menjadi sangat takut dengan yang kekiri-kirian. Ini artinya Indonesia meninggalkan Rusia dan berpaling ke Amerika.
Dan setelah Supersemar dijadikan surat sakti untuk memberantas sisa-sisa G-30S, lalu pemegang Supersemar diangkat menjadi presiden, Indonesia berubah haluan 180 derajat. Hampir semua jabatan vital dipegang oleh perwira Angkatan darat. Sehingga rakyat berbisik takut-takut dan bertanya siapa sebetulnya yang meng-kup Sukarno?
Di bawah pemerintahan yang hampir semuanya orang militer, rakyat Indonesia jadi takut dan kapok dengan yang segala yang berbau kiri. Semua orang tiba-tiba saja beragama. Banyak orang tiba-tiba rajin ke mesjid dan ke gereja. Soalnya takut dituduh PKI. Sehingga kiblat Indonesia berganti ke Amerika, tidak lagi ke Blok Timur.
Rusia yang tadinya sahabat Indonesia sekarang menyingkir. Amerika jingkrak-jingkrak! Soalnya mimpi mereka untuk menancapkan kuku di Indonesia akhirnya terwujud. Indonesia yang di bawah tanahnya banyak emas dan minyak itu akhirnya jatuh ke pelukan Amerika. Apa buktinya?
Kepentingan Amerika cuma satu. Pokoknya modal Amerika mesti masuk ke Indonesia. Hasilnya? Begitu pemegang Supersemar diangkat menjadi Presiden menggantikan Sukarno, maka produk undang-undang pertama yang digodok adalah RUU Penanaman Modal Asing Tahun 1967.
Setelah lahir UU Penanaman Modal Asing, sebut saja sumber daya alam mana di Indonesia yang sampai sekarang tidak dikuasai Amerika? Sukarno telah ditumbangkan oleh Amerika. Dan bagaimana pemangku Supersemar akhirnya lengser?
Ketika ayam jago yang dielus-elus tuannya tidak lagi berguna, maka ayam itu “di-kuali-kan” menjadi ayam sayur. Semua itu berawal ketika “kapitalisme Cendana” ternyata semakin me-raksasa nyaris mendesak kepentingan kapitalisme Amerika. Maka pemangku Supersemar pun akhirnya terdepak pula.
Di mana letak perbedaan kejatuhan Sukarno dan Suharto? Sukarno memang dijatuhkan sesudah menandatangani Supersemar, tapi tak pernah jatuh ke pelukan Amerika. Sedangkan Suharto sudah jatuh sejak awal. Bahkan ketika dia baru saja mengirim utusannya untuk memaksa Sukarno menandatangani Supersemar, di saat itu Suharto telah jatuh ke pelukan Amerika.
Tidak ada kekuasaan yang abadi. Setiap saat kekuasaan bisa saja jatuh. Tapi ada satu hal yang tidak otomatis jatuh bersama kekuasaan. Yaitu kehormatan. (Walentina Waluyanti – Nederland, 4 Maret 2010)
Amerika sebut Supersemar Sebagai Kudeta
Tuduhan bahwa Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) adalah puncak dari kudeta merangkak yang dilakukan Soeharto, semakin jelas dengan adanya dokumen Central Intelligence Agency (CIA). Telegram rahasia dari Kedubes AS di Jakarta kepada Departemen Luar Negeri AS, sehari pasca-Supersemar, menyatakan: Indonesia baru saja melancarkan sebuah kudeta militer (military coup).
Dalam “Membongkar Supersemar”, Sejarawan Baskara T. Wardaya melampirkan telegram rahasia yang ia dapatkan itu. AS tidak hanya menyebut Supersemar sebagai kudeta. Tapi melihat caranya yang merangkak, negara adidaya itu menyebut Supersemar sebagai “kudeta militer yang khas negeri tersebut”.
Isi telegraph rahasia itu adalah: “Setelah lama ditunggu-tunggu kini Soekarno telah mempertaruhkan nasibnya terlalu jauh. Rencana dia untuk menyingkirkan jajaran kepemimpinan militer dan memasukkan seseorang yang dikenal sebagai pro-komunis sebagai Menteri Pertahanan telah mendorong militer untuk memotong kekuasaannya.”
Menteri yang dimaksud AS sebagai pro-komunis adalah Mayjen Sarbini. Dia ditunjuk oleh Presiden Soekarno menggantikan AH Nasution, yang dikenal dekat dengan AS. Saat Supersemar terjadi Nasution tidak menjabat apa-apa lagi. Dia lebih banyak menunggu di rumah sambil melihat dinamika politik yang terjadi.
Dukungan AS untuk penggulingan Soekarno semakin jelas dengan adanya memorandum dari Deputi Asisten Khusus Bidang Keamanan Nasional AS, Robert Komer, kepada Presiden Lyndon Jhonson. Dalam memo itu, Komer menyebut Supersemar sebagai “kudeta yang sukses”.
Memo yang dikirim sehari setelah Supersemar: “Mendukung sukses. Tidak sulit untuk menyadari betapa pentingnya kemenangan AD atas Soekarno (meskipun Soekarno tetap dihormati sebagai simbol negara). Indonesia memiliki jumlah penduduk – dan jumlah sumber alam – melebihi yang ada di seluruh Asia Tenggara. Selama ini Indonesia telah siap menjadi negara komunis yang ekspansionis, yang siap mengancam bagian belakang posisi Barat di Asia Tenggara.”
Dalam “Peristiwa G 30 S yang Saya Alami”, Soebandrio mengatakan, sangat jelas AS takut Indonesia dikuasai komunis. Wakil Perdana Menteri I di kabinet Dwi Kora itu mengatakan ada dua proyek AS di Indonesia. “Hancurkan PKI dan gulingkan Soekarno,” cetusnya.
Soebandrio dan sejumlah menteri yang berhaluan kiri memang banyak duduk di kabinet saat itu. Apalagi hubungan AS dan Soekarno terus memburuk pasca-pernyataan keras Soekarno tentang penghentian batuan negara adidaya ke Indonesia. “to hell with your aid,” cetus Soekarno saat itu.
Setelah Supersemar terbit, PKI mulai diberangus, Soebandrio dan 14 menteri kabinet Dwi Kora yang loyal dengan Bung Karno dan berhaluan kiri, ditangkap dan ditahan. Soebandrio divonis hukuman mati oleh Mahkamah Militer Luar Biasa.
“Dari posisi orang nomor dua di republik ini, mendadak diadili sebagai penjahat dan dihukum mati,” ratap Soebandrio di penjara Cimahi. Namun, Soebandrio akhirnya lolos dari jerat maut berkat surat Presiden AS Lyndon Jhonson dan Ratu Inggris Elizabeth kepada Soeharto.
“Soebandrio jangan ditembak, saya tahu dia tidak terlibat dalam G 30S”, demikian surat yang akhirnya membuat Soebandrio tetap hidup dan menulis kesaksiannya setelah reformasi meletus.
Arsip Nasional Terus Mencari Supersemar Asli
Kepala ANRI M Asichin meyakini Supersemar asli itu benar-benar ada. Naskah asli Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) entah di mana kini berada. Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) mengaku hanya menyimpan versi palsu Supersemar.
Mungkinkah naskah asli surat perintah dari Presiden Soekarno ke Soeharto itu ditemukan? “Yang jelas kami terus berupaya,” kata Kepala ANRI, M Asichin, di Jakarta, Sabtu (10/3/2012).
Asichin menjelaskan ANRI telah melakukan pencarian naskah asli Supersemar sejak tahun 2000 atau sejak reformasi membuka tabir kepalsuan surat, yang menjadi bahan ajaran siswa-siswa pada masa Orde Baru.
“Terakhir kami wawancarai Joko Pekik dan Rewang pada 2011,” kata Asichin tentang mantan dua anggota Partai Komunis Indonesia (PKI), partai yang dibubarkan Soeharto setelah menerima Supersemar.
Namun, kata Asichin, pada wawancara Juni dan Juli 2011 itu, Joko Pekik dan Rewang juga tidak tahu perihal surat tersebut. “Mereka cuma mendengar saat itu soal Supersemar, soal ada tidak ada, mereka tidak tahu,” ujar Asichin.
Dalam rangka mencari Supersemar, ANRI juga pernah mewawancarai keluarga Jenderal (Purn) M Jusuf, salah satu petinggi Angkatan Darat (AD) yang mengantarkan Supersemar dari Soekarno kepada Soeharto. Asichin mengatakan, klaim M Jusuf memiliki naskah asli Supersemar tidak terbukti.
Kepada ANRI, Andi Heri, keponakan M Jusuf yang saat itu menjabat Wakil Wali Kota Makassar mengatakan, “Keluarga kami tidak menyimpan.” Wawancara itu dilakukan pada 31 Agustus 2005.
ANRI juga pernah mendatangi anak Jenderal (Purn) AH Nasution, namun hasilnya juga sama, nihil. “Dia juga tidak tahu,” kata Asichin. Secara pribadi, Asichin meyakini Supersemar asli itu benar-benar ada. Soekarno sendiri pernah mengatakannya pada pidato di HUT Kemerdekaan 17 Agustus 1966.
“Pak Moerdiono juga pernah mengatakan beliau melihat dan beliau yakin ada,” kata Asichin. Mungkinkah naskah asli Supersemar ditemukan? Setidaknya keyakinan kepala ANRI bisa jadi modal untuk mencari Supersemar yang asli, yang telah memberi dampak bagi kehidupan bangsa Indonesia sampai saat ini.
Penemu Supersemar Akan Diberi Penghargaan
Meski UU Kearsipan mengatur ancaman pidana bagi penyembunyi arsip negara, hukuman untuk pemegang Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar) nampaknya tidak terlalu ketat. Bahkan, Arsip Negara Republik Indonesia (ANRI) menjanjikan penghargaan bagi mereka yang mengembalikan surat sakti dari Soekarno ke Soeharto itu.
“Ya peraturan kan bukan untuk dilanggar,” ujar Kepala ANRI, M Asichin, di Jakarta, Sabtu (10/3). Aschin menjelaskan di UU Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan juga mengatur soal penghargaan bagi mereka yang memberikan arsip negara yang bernilai sejarah tinggi, seperti Supersemar. “Kita akan gunakan cara-cara persuasif,” ujarnya.
Seperti diketahui, ancaman pidana soal kearsipan di era Soeharto sangat besar. Pasal 11 Undang-undang Nomor 7 Tahun 1971 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Kearsipan menyatakan barangsiapa dengan sengaja memiliki arsip negara dengan melawan hukum, maka akan dipenjara selama-lamanya 10 (sepuluh) tahun.
Namun, pada revisi terakhir UU itu, yakni UU Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan, aturan pidana soal penyimpanan arsip negara sedikit berubah. Bagi yang memiliki arsip negara secara melanggar hukum ia akan dibui maksimal lima tahun. Dan bagi yang memusnahkan arsip tidak sesuai prosedur yang diatur akan mendapat hukuman maksimal 10 tahun penjara.
Cari Supersemar, ANRI pernah temui Tutut dan Megawati
Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) terus berupaya mencari keberadaan naskah asli Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar). Dalam waktu dekat, lembaga itu akan mewawancari Siti Hardiyanti (Tutut) Rukmana dan Megawati Soekarnoputri.
“Kita akan memasukan permohonan wawancara,” kata Kepala ANRI, Asichin, di Jakarta, Sabtu (10/3/2012). Asichin menjelaskan, adalah penting untuk mencari informasi seputar Supersemar kepada keluarga Soekarno dan Soeharto, sebagai pemberi dan penerima surat.
“Kita akan tanya pernah lihat tidak (naskah asli Supersemar-red), apapun jawaban beliau akan kita arsipkan,” kata Asichin.
Tidak hanya kepada keluarga pemberi dan penerima surat, ANRI juga akan mewawancarai tokoh-tokoh yang dekat dengan konteks peristiwa 1966 itu. Dia menyebut nama Akbar Tandjung dan Cosmas Batubara, pentolan gerakan mahasiswa tahun 1966. “Siapa tahu mereka tahu,” ujarnya.
Dalam rangka mencari Supersemar, ANRI juga pernah mewawancarai keluarga Jenderal (Purn) M Jusuf, salah satu petinggi Angkatan Darat (AD) yang mengantarkan Supersemar dari Soekarno kepada Soeharto. Asichin mengatakan, klaim M Jusuf memiliki naskah asli Supersemar tidak terbukti.  (Reporter : Laurencius Simanjuntak/merdeka.com)

suharto piye kabare enak dijamanku toh 

Sumber : indocropcircles

Ratna Sari Dewi: Wafat Bung Karno Tahun 1970 Sengaja Diatur!

Posted by Unknown 10:20 AM , under | No comments


Ratna Sari Dewi: Wafat Bung Karno Pada Tahun 1970 Sengaja Diatur!


“Kematian Bung Karno sengaja diatur terjadi pada 1970, agar Pemilu Indonesia di 1971 yang merupakan pemilu pertama yang digelar pemerintahan Orde Baru, dapat terlaksana. Pelaksanaan Pemilu 1971, secara politis tidak terkendala.” (Ratna Sari Dewi Soekarno a.k.a. Naoko Nemoto)

Ratna Sari Dewi Soekarno, sudah lama tidak terdengar. Salah satu hal menarik dari wanita asal Jepang itu, setiap kehadirannya di Jakarta selalu menciptakan berita.
Kalau bukan soal kecantikan, yah pernyataannya. Dewi saat ini sudah berusia 72 tahun, lahir 6 Februari 1940. Tapi penampilannya belum seperti nenek-nenek.
Ia masih berdandan seperti wanita berusia 40-an tahun atau setengah abad. Dandanannya masih tetap trendy dan sisa kecantikannya belum hilang.

SBY dan Dewi Sukarno
Ketika demam Soekarno kembali muncul di Indonesia pada 1988 Dewi Soekarno pernah membuat pernyataan yang cukup mengejutkan.
Menurut dia, suaminya, Soekarno (Bung Karno) yang juga Proklamator RI, meninggal secara tidak wajar.
Kata wanita asal Jepang yang bernama asli Naoko Nemoto itu, kematian Bung Karno sengaja diatur terjadi pada 1970, agar Pemilu Indonesia di 1971 yang merupakan pemilu pertama yang digelar pemerintahan Orde Baru, dapat terlaksana. Pelaksanaan Pemilu 1971, secara politis tidak terkendala.
Dewi menjelaskan, akan sangat janggal bagi penglihatan dunia internasional jika Orde Baru yang dipimpin Presiden Soeharto menggelar Pemilu di 1971.
Sebab pada saat itu, Indonesia tengah memiliki Presiden Kembar: Soekarno (de jure) dan Soeharto (de facto). Oleh karena itu sebelum Pemilu 1971, Soekarno harus disingkirkan (dilenyapkan).

Soeharto dilantik menjadi presiden setelah mengeluarkan Supersemar ke presiden
SukarnoPernyataan Dewi itu merupakan salah satu penggalan dari wawancaranya
dengan Tabloid Detak. Media yang dikelolah Eros Djarot, sutradara film yang
dikenal dekat dengan puteri Bung Karno, Megawati pada saat itu, tidak berusia
panjang.Tabloid yang diterbitkan dari Gedung Prioritas, Jl.Gondangdia Lama,
Jakarta, tempat Surya Paloh menerbitkan harian Prioritas dan majalah Vista ketika
itu, kemudian menghentikan penerbitannya dan sebagian krunya lalu meluncurkan
media internet Detik Dotkom.

Dewi Sukarno a.k.a. Madame Syuga saat muda
Pernyataan Dewi tersebut tidak berhenti di situ. Ia menuduh, sebelum meninggal, rezim militer sengaja mengisolasi Soekarno di Wisma Yaso, sekarang Museum Mandala di Jl Gatot Subroto, Jakarta.
Pengucilan dimaksudkan agar suaminya itu mengalami kehidupan yang stress.
Setelah itu ada alasan untuk membawa Bung Karno ke rumah sakit.
Tapi Dewi yang saat Bung Karno menjalani kehidupan sebagai tahanan rumah sedang mengasingkan diri di Paris, Prancis mengaku, mendapatkan informasi tentang keadaan Bung Karno setelah ia mewawancarai para pembantu yang merawat almarhum.
“Bapak (Soekarno) meronta dan berteriak-teriak bahwa dia tidak sakit, ketika sejumlah dokter yang dikawal militer menjemputnya untuk dibawa ke rumah sakit,” berkata Dewi kepada Tabloid Detak.
 
Pernyataan Dewi itu secara resmi tidak perah dibenarkan ataupun dibantah oleh pemerintahan Orde Baru. Namun isunya kemudian tenggelam dan dilupakan orang begitu saja.
Tapi boleh jadi akuntabilitas Dewi sebagai sumber berita melemah, sebab prilaku Dewi di masyarakat pun, banyak yang tidak patut.
Di 1992, Dewi dilaporkan pernah berkelahi di sebuah pesta dengan anak bekas Presiden Filipina, Minnie Osmena.
Dewi melempar wajah sosialita yang tinggal di Amerika Serikat itu dengan gelas anggur menyebabkan wajah wanita asal Filipina itu harus mendapat jahitan pengobatan. Dewi sendiri harus meringkuk di penjara California selama 37 hari.

DEWI SUKARNO on BATH
Tidak lama berselang, pada 1994 Dewi meluncurkan sebuah buku yang berisikan foto-foto tubuhnya yang tidak dibalut oleh sehelai benangpun. Juga ada bagian-bagian yang diberi gambar tatoo.
Buku yang diberi judul Madame De Syuga itu seperti melunturkan reputasinya sebagai isteri Proklamator RI.
Walaupun buku itu dilarang beredar di Indonesia, tetapi gara-gara sebagian isinya dikutip majalah What’s On Jakarta pengutipan itu mengakibatkan citra Dewi di Indonesia menjadi kurang baik.
Dewi sendiri berdalih bahwa bukunya tidak berisikan gambar porno, melainkan sekadar menggambarkan bahwa wanita yang sudah berusia hampir setengah abad pun masih bisa memiliki tubuh yang indah, sexy dan menarik.
 
Namun dalihnya tak bisa menghapus kesan negatif tentang dirinya.
Pada 2001, saat Megawati Soekarnoputri, anak tirinya, baru saja menjadi Presiden RI, Dewi berkomentar singkat “Saya kira, Megawati secara berangsur melakukan apa yang bisa dia lakukan,” katanya.
“Hanya saja memang tidak mudah bagi seorang wanita untuk menjadi Presiden di negara yang mayoritas penduduknya pemeluk agama Islam”.
Pernyataan Dewi tersebut sulit ditafsirkan apakah ia mendukung atau meremehkan kemampuan Megawati selaku Presiden RI atau bagaimana?
Sulit ditafsirkan karena dari bahasa tubuhnya, di sisi lain, putri tunggal kesayangannya Kartika Soekarno, sangat lengket dengan keluarga Teuku Umar (Mega-Taufiq). Kedekatan Kartika dengan keluarga Teuku Umar terlihat dari beberapa peristiwa.

Sutan Sjahrir, Sukarno dan Hatta
Kartika ikut serta dalam rombongan Presiden Megawati yang melakukan lawatan ke luar negeri.
Kartika selalu bersama Puan Maharani, putri Mega dan Taufiq.
Mereka duduk di kabin kepresidenan. Terpisah dari kabin kelas bisnis yang diduduki rombongan Menteri, Anggota DPR dan para Pemimpin Redaksi.
Pada 2007, ketika Mega sudah menjadi mantan Presiden dan Kartika menikah di Belanda, Megawati secara khusus diundang.
Tapi yang mengudang Mega bukan Dewi sebagai orangtua. Melainkan Kartika dan suaminya. Dewi sendiri saat ini menetap di kawasan Shibuya, Tokyo, Jepang. Kalau sedang berada di Jakarta, jarang sekali atau bahkan tidak pernah nampak berkumpul dengan keluarga Soekarno.
Tapi sekalipun begitu bukan Dewi Soekarno, kalau kehadirannya tanpa berkumpul dengan keluarga Soekarno, lalu berlalu tanpa pemberitaan media massa.

Sukarno speech
Dewi seakan punya kiat, setiap kali berada di Jakarta akan selalu menarik media untuk meliput atau mewawancarainya.
Dewi seperti punya Public Relations Officer Profesional yang pintar mengatur acaranya di Jakarta agar tidak dilewatkan oleh media begitu saja. Pada hari Minggu 13 Mei 2012 pukul 06:30, Dewi muncul di program TalkIndonesia, MetroTV.
Dalam acara berbahasa Inggris yang dipandu Dalton Tanonaka, bekas presenter CNN tersebut, Dewi diajak berbicara tentang bagaimana seharusnya seorang Presiden RI berperan atau berprilaku.
Dalton, warga Amerika keturunan Jepang itu juga menghadirkan Ayu Saraswati, seorang artis yang diberi label sebagai keponakan Prabowo Subianto, sosok yang mengklaim sebagai pengagum Soekarno sekaligus salah seorang kontender dalam Pilpres 2014.
 

Saat talk show berlangsung dan muncul gambar Soekarno yang disusul Presiden SBY, terdapat sejumah pernyataan yang membandingkan era sekarang dengan masa kepemimpinan Soekarno.
“Indonesia secara ekonomi masih tergolong negara miskin. Tapi di era Soekarno, Indonesia disegani oleh bangsa-bangsa lain.” jelasnya.
Di era itu, kalau Presiden berbicara, rakyat mendengar apa yang dikatakan oleh pemimpinnya. Sekarang tidak !” Dewi menambahkan.
Dewi melalui di stasiun TV milik Surya Paloh, yang isterinya blasteran Jepang itu, seakan menyindir Presiden SBY dan kepemimpinanya. [mdr/news.inilah.com/icc.wp.com]
***
Dalam sebuah surat semi puisi yang ditulis Bung Karno tanggal 6 Juni 1962, salah satu bagiannya yang sangat lembut, romantis, sekaligus menggemparkan berbunyi:
“Kalau aku mati, kuburlah aku di bawah pohon yang rindang. Aku mempunyai seorang istri, yang aku cintai dengan segenap jiwaku. Namanya Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal kuburlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku.”
Isi surat tsb menunjukkan kesan betapa kuatnya jalinan asmara antara Bung Karno dengan Ratna Sari Dewi, yang bahkan kematian sekalipun tidak akan memisahkan jasad mereka. (Dikutip dari http://www.indonesiamedia.com)
***
 
Setelah Sukarno yang anti imperialis ingin agar bangsanya dapat merdeka total dan
mandiri lepas dari imperialis, kemudian digulingkan oleh Soeharto dengan jebakan
dari AS dan kemudian memimpin selama 32 tahun, maka selanjutnya mereka
semua (para presiden) tak bisa lagi berbuat banyak untuk rakyat dan negaranya
akibat tekanan dari negara-negara barat yang pastinya mengancam akan
meruntuhkan kebersamaan dan keutuhan bangsa ini.
*****

Minggu, 30 Juni 2013

Waspada “Economic Bubble” : Indonesia Diambang Krisis Moneter?

Posted by Unknown 9:57 PM , under | No comments

economic finance header

Waspada!! “Economic Bubble” Sebagai Indikator Awal Krisis Moneter : Bisa Jadi, Indonesia Justru Sedang Diambang Krisis Keuangan!

economic bubble banner
Gelembung Ekonomi atau “Economic Bubble” dapat muncul setiap saat, tanpa didahului terjadinya ketidakpastian harga dan aksi spekulasi. Fenomena globalisasi membuat krisis ekonomi di suatu negara langsung menciptakan ancaman krisis serupa di seluruh negara di dunia. Janganlah kita mudah terlena dengan indikasi ekonomi makro yang gemilang. Namun sesungguhnya keropos di dalam.
economics bubble header
Ditengah krisis dunia sejak tahun 2008 yang akhirnya berkembang secara global termasuk di AS dan Eropa, namun justru pendapatan perekonomian dan daya beli rakyat dibeberapa negara seperti Cina, India dan Indonesia semakin tinggi.
Banyak statistik membuktikan bahwa rakyat Indonesia semakin makmur, dibidang otomotive dan property misalnya, kedua jenis produk itu dibeli layaknya “kacang goreng”.
Di dunia otomotif, dari motor hingga mobil-mobil mewah berseliweran di jalan, hingga blanko STNK pun habis tanpa stok saat mengurus perpanjangan STNK dan harus menunggu beberapa bulan ke depan, gila! ini terjadi hanya karena membludaknya pembelian otomotif di Indonesia.

 

Masalah macet? bukan lagi terjadi di kota besar, saat Lebaran misalnya, macet sudah seantero pulau-pulau besar di Nusantara, melalui jalan-jalan antar provinsi di tiap pulaunya.
Harga properti dan tanah juga naik gila-gilaan, kawasan elite di Menteng Jakarta misalnya, pada periode Mei 2013 tiap satu meter persegi sudah mencapai hingga Rp. 100 juta lebih.
Tapi harga setinggi itupun tetap dibeli, harga-harga perumahan, apartemen dan properti lainnya di Indonesia juga semakin naik tanpa patokan yang jelas, tapi tetap dibeli dan terbeli oleh masyarakat. Luar biasa daya beli masyarakat pada saat ini.
Masih ingat bagaimana orang-orang golongan ekonomi menengah ke atas dengan perhiasan mencolok serta gadget terbaru yang digenggamnya, masih mau dan rela mengantri di mall-mall sepanjang lebih dari 100 meter hanya untuk dapat membeli sebuah sandal merk Crocs?

 harga rumah naik dan mahal 
Masih ingat orang berebut mengantri panjang bagaikan ular di setiap ada peluncuran handphone keluaran terbaru dengan harga discount?
Harga sebuah sandal atau handphone yang kelewat mahal “tak masuk akal” jauh dari biaya produksi hanya ada di Indonesia, karena masyarakatnya sangat konsumtif terhadap merk-merk “kelas dunia” tertentu diatas negara-negara lainnya.
Sehingga, banyak produsen handphone dan gadget meluncurkan produk terbarunya justru di Indonesia. Selain konsumtif, Indonesia memang tak berdampak signifikan oleh krisis monetar dunia yang belum pulih hingga kini.
Indonesia merupakan salah satu market atau pasar potensial di dunia dengan jumlah penduduk 250 juta, yang nyaris semuanya memakai barang import. Berbeda dengan banyak negara lain yang penduduknya jauh lebih banyak dibanding Indonesia, namun warganya tidak begitu konsumtif apalagi terhadap suatu brand atau merk seperti warga Indonesia.
Namun janganlah justru senang, BISA JADI inilah salah satu indikator awal krisis moneter Indonesia sebentar lagi untuk ke depannya, ketika harga-harga naik tanpa patokan, ketika rakyat tetap membelinya, Economic bubble! Mirip Amerika Serikat saat terpuruk ekonominya. Kredit macet perumahan tak terkira. PREPARE! Economic bubble ahead!

antrian_pembeli_crocs

Gelembung ekonomi (economic bubble), atau gelembung spekulatif, atau gelembung keuangan adalah “perdagangan dalam volume besar dengan harga yang sangat berbeda dengan nilai intrinsiknya”.
Dalam kata lain, memperdagangkan produk atau aset dengan harga yang jauh lebih tinggi atau lebih mahal daripada nilai fundamentalnya!
Walaupun beberapa ahli ekonomi menyangkal adanya gelembung ekonomi, tapi penyebab gelembung ekonomi tetap menjadi tantangan untuk diteliti bagi mereka yang yakin bahwa harga aset sangat sering menyimpang dari nilai intrinsiknya.

pameran di jakarta

Meskipun ada banyak penjelasan tentang penyebab gelembung ekonomi, namun belakangan ini diketahui bahwa gelembung ekonomi dapat muncul bahkan tanpa didahului ketidakpastian, spekulasi, atau rasionalitas terbatas!
Penjelasan lain mengatakan gelembung ekonomi mungkin akhirnya disebabkan oleh proses koordinasi harga atau norma-norma sosial yang baru muncul.
Pengamatan nilai intrinsik sering sulit dilakukan dalam keadaan nyata di pasar, sehingga gelembung yang terjadi sering hanya dapat dikenali dengan pasti secara retrospektif, ketika terjadi penurunan harga secara tiba-tiba.

 

Keadaan anjloknya harga seperti itu sering disebut juga sebagai Keruntuhan (crash) atau “pecahnya gelembung” (boom economic).
Fase “boom economic” maupun resesi dalam suatu ekonomi gelembung adalah contoh-contoh dari mekanisme “umpan balik positif” yang membedakannya dari mekanisme “umpan balik negatif” yang menentukan harga keseimbangan dalam keadaan pasar normal.
Harga-harga dalam gelembung ekonomi dapat berfluktuasi dengan tidak menentu, dan menjadi tidak mungkin untuk memprediksinya hanya berdasarkan penawaran dan permintaan saja.
Ahli ekonomi menggunakan istilah “gelembung” untuk peningkatan harga aset secara ekstrem berdasarkan harapan kenaikan harga pada masa depan dan tanpa dukungan fundamental ekonomi dan lazimnya diikuti kenyataan yang bertolak belakang dari harapan, dan anjloknya harga-harga.
Contoh-Contoh Gelembung Ekonomi di Indonesia dan di Dunia
Sebagai contoh-contoh kecil, masih ingatkah Anda saat mewabahnya berbagai produk “dengan harga gila dan aneh” di Indonesia yang tak masuk akal beberapa tahun lalu?


Ikan Louhan, hanya karena motif berwarna gelap yang ada disisi samping badannya dan mirip tulisan sesuatu, harganya bisa mencapai milyaran rupiah. Kini tak ada lagi kabar tentang bisnis ini.
Masih ingat saat Indonesia evoria dan demam ikan Louhan? Seekor ikan Louhan bisa berharga ratusan juta hingga milyaran, hanya karena terdapat “mirip tulisan” tertentu pada corak berwarna gelap yang ada disamping badannya dan hanya dapat terlihat berupa titik-titik abstrak disamping badannya, dengan begitu harganya mencapai milyaran rupiah.
Begitu pula dengan ikan Louhan yang bentuk fisiknya cacat sejak lahir, ketidaksempurnaan bentuk tubuhnya juga dapat dihargai jutaan rupiah.
Lalu, bagaimana gilanya harga seekor tokek? Tokek yang diyakini dapat menyembuhkan AIDS, maka tokek dijual mahal, tokek merupakan binatang yang saat itu banyak dicari keberadaannya oleh sejumlah masyarakat.
Pasalnya, jenis reptil yang masuk golongan cecak besar suku Gekkonidae itu memiliki harga jual tinggi di pasaran. Harga tokek yang memiliki berat 4 ons bisa dijual lebih dari Rp 500 juta rupiah hingga milyaran rupiah.
Dengan iming-iming akan mendapatkan keuntungan besar, sejumlah masyarakat berlomba-lomba untuk berbisnis tokek. Dari tokek kecil dibeli dengan harga mahal, lalu dijual lagi dengan harga lebih mahal, begitu seterusnya, selalu dibeli oleh orang yang bukan membutuhkannya, tapi hanya karena bisnisnya.

Tokek, yang masuk golongan cecak besar suku Gekkonidae, pada masa lalu memiliki harga jual sangat tinggi di pasaran karena diyakini bisa menyembuhkan AIDS. Harga tokek yang besar isyunya bisa dijual lebih dari 1 milyar rupiah. Kini tak ada lagi kabar tentang bisnis ini.
Hingga pada pembeli tokek terakhir inilah, tokek hasil pembeliannya itu akhirnya tak laku lagi dijual, tak ada pembeli lain yang berani membelinya dengan harga sangat tinggi. Yang laku untuk diekspor justru yang hanya berukuran biasa.
Bagaimana pula dengan harga sebuah tanaman Anthurium beberapa tahun lalu? Gelembung harga hingga ratusan juta rupiah tanaman talas-talasan (Aracaceae) berlabel Anthurium, yang booming pada sekitar tahun 2004-2007, membuat beberapa kalangan masyarakat kaya mendadak, dan sebaliknya, miskin mendadak!
Itu terjadi karena migrasi tingkat pendapatan, dari kalangan pejabat pemerintah yang kaya dan berpunya dari perkotaan dengan tabungannya jutaan rupiah, berpindah ke kalangan petani bunga di desa pedalaman dan kaki pegunungan, yang bahkan sebelumnya tak paham caranya bikin rekening tabungan di bank (waktu itu tak banyak orang desa punya rekening, bank biasanya cuma ada di kota).
Penawaran suplai terbesar tamanam yang datang dari desa-desa, dan permintaan terbesar datang dari perkotaan, atau ibu kota Jakarta, yang kebanyakan tidak mengerti hukum ekonomi pasar, permintaan dan penawaran, serta rekayasa sosial kelangkaan komoditas (oleh para pemain lama di pasar), untuk mengendalikan tingkat harga.


Anthurium andraeanum, pohon dari zaman dahulu kala yang biasanya ada disemak-semak hutan ini, anehnya, harganya sempat sangat mahal. Kini tak ada lagi kabar tentang bisnis ini.
Bagaimana bisa tanaman sejenis talas ini, Anthurium, yang biasanya tumbuh liar, atau ditanam sebagai penghias ruangan di rumah-rumah itu harganya bisa membumbung sampai puluhan kali lipat dari tingkat pendapatan perkapita masyarakat Indonesia pada umumnya?
Semua itu karena setiap barang bisa dihargai atau divaluasi oleh pasar, dan pasar dibangun dari dua komponen utama, yaitu penawaran (supply) dan permintaan (demand).
Kurva akan berusaha mencari tingkat keseimbangan (equilibrium), antara permintaan dan penawaran, dan secara ekonomi pergeseran itu bisa sangat liar, tak terkendali.
Gelembung ekonomi tanaman talas Anthurium ini sebenarnya model kasus yang meniru persis kasus gelembung ekonomi Bunga Tulip di Belanda, pada periode 1636- 1637, tahun yang sama awal-awal kapal dagang VOC mendarat di tanah Jawa.
Kasusnya seakan menggelikan, konyol tapi nyata, oleh karena itu pakar ekonomi sering melabelnya dengan : Teori Kegilaan Massal, atau Kebodohan Besar, saat manusia bisa berlomba membeli bunga atau tanaman, dengan harga yang setara dengan rumah mewah, di zamannya.

 

Tulip sebenarnya bukanlah tanaman asli Belanda (di dataran rendah/ Nederland), walaupun mungkin sampai sekarang menjadi ikon utama negeri itu, selain kincir angin.
Tulip aslinya dari kawasan Asia Tengah, yang pertama kali dikultivasikan pada sekitar tahun 1000, oleh para botanis dan ahli pertamanan Kesultanan Turki Usmaniyah.
Popularitas Tulip sebagai komoditas dengan nilai ekonomi meningkat, dengan bertambah eratnya relasi perdagangan antara Turki Usmaniyah dengan kerajaan-kerajaan di tanah Eropa, utamanya Tahta Suci Romawi.
Kultivasi Tulip di Belanda dimulai oleh satu orang botanis, mantan ahli taman Kaisar Maximilian II, yang membangun taman botani kerajaan di Wina, Austria, bernama Claudius Clusius. Pada 1594, Tulip tumbuh pertama kali di tanah Eropa, setahun setelah kedatangan Claudius di Belanda.

Interest rate & value stock of assests curve
Selama periode 1594 sampai 1637 Tulip menjadi komoditas ekonomi berharga tinggi di Eropa, simbol status sosial, dan tentunya langka, karena ini syarat pertama sebuah barang bisa dimainkan kurva equilibrium-nya.
Bunga Tulip yang indah menjadi simbol sosial kalangan atas, para bangsawan dan borjuis Eropa, membuat permintaan terus meningkat pesat, dan sesuai hukum pasar, maka penawaran harus mengimbangi untuk terbentuknya harga yang disepakati.
Tumbuhnya permintaan Tulip jauh lebih cepat daripada tingkat produktivitasnya. Siklus hidup Tulip butuh 7 sampai 12 tahun untuk pembibitan hingga panen bunga.
Untuk mengendalikan harga Tulip, pedagang Tulip menggunakan cara baru, yaitu dengan model surat berharga, yang dikeluarkan setiap musim dingin, hingga pembeli bisa mendapatkan produknya di musim panas.



Bunga Tulip, yang sempat menghancurkan perekonomian Belanda dimasa lalu akibat dari ‘economic bubble’.
Surat berharga itu dibuat berdasarkan prediksi kualitas bibit, dan tentunya prediksi harga yang pantas di masa depan, atau subprime lending. Peredaran instrumen transaksi, berupa surat hutang, membuat peningkatan nilai agregat nominal hutang, yang tidak diimbangi dengan transaksi riil, pertukaran barang (Tulip) dengan uang (alat tukar resmi).
Lambatnya siklus produksi Tulip yang sangat tidak sebanding dengan jumlah pertumbuhan permintaannya, sangat berkontribusi untuk terjadinya gelembung ekonomi yang berpuncak pada tahun 1636- 1637.

Tulip price index
Pada awalnya yang berjudi dengan pertumbuhan harga Tulip hanya kalangan pedagang, lalu demam Tulip ini merambah ke kalangan bangsawan dan orang kaya, bahkan masyarakat umum, karena adanya harapan bahwa pembelian hari ini, akan bisa dijual dengan harga berlipat pada bulan- bulan berikutnya.
Pada Januari 1637, harga sepucuk Tulip menyentuh harga 6000 Florins atau setara 1,8 juta USD pada masa kini (kurs April 2013) sedangkan pendapatan perkapita di Belanda saat itu di angka 150 Florins atau setara 45,000 USD (kurs April 2013 ).
Pada Februari 1637, terjadi penjualan Tulip dalam jumlah besar yang diikuti dengan panik massal penjualan stok Tulip secara beruntun oleh para pelaku pasar, harga Tulip pun anjlok, sama dengan harga seonggok bawang putih, di kala itu.
Talas Anthurium jelas punya kesamaan model kasus, banyak petani di kaki gunung yang kaya mendadak, karena ulah spekulan di perkotaan. Namun selebihnya, banyak ibu- ibu istri pejabat, yang telanjur menanamkan uangnya dengan harapan akan menangguk keuntungan berlipat, jatuh merugi.
Nilai Anthurium tertinggi yang ditawarkan pernah sampai di titik harga Rp. 300 juta rupiah, dengan perbandingan rata-rata upah minimum regional Jawa Tengah (tempat terbanyak petani Anthurium untuk perkotaan) perkapita hanya Rp. 12 juta rupiah, 25 kali lipat.
Secara agregat nominal, persentase rasio, atau skala ekonomi memang tidak sebesar “Tulipmania” 1636- 1637 di Belanda, tapi kasus Anthurium 2006- 2007 di Jawa Tengah ini cukup mampu membolak-balik status sosial ekonomi beberapa kalangan.
 
Siapa yang diuntungkan dari kasus gelembung semacam bunga Tulip dan Anthurium ini?
Yang diuntungkan tentunya adalah para spekulan yang tahu benar kapan saatnya membeli dan menjual stok barangnya, mereka yang mendengar pertama kali saat harga masih murah, dan menjualnya kembali pada titik harga tertinggi.
Siapa yang dirugikan? Tentunya adalah “para pengekor” yang membeli saat harga mendekati puncak, dan menjual stoknya, saat harga barang sudah jatuh, menjauhi titik tertinggi harga pasar, mirip fenomena jual-beli tokek.
Menariknya kurva parabol pertumbuhan persentase marjin, dalam kasus- kasus gelembung ekonomi, selalu dibumbui dengan variabel psikologi pelaku pasar, misalnya: dorongan memiliki simbol status sosial pergaulan, hasrat meraih keuntungan berlipat atau bumbu meta-fisikal segala, tentang doa-doa yang dikabulkan, bahwa tujuh turunan generasi akan kaya raya, tanpa perlu lagi bekerja.
Ya, manusia ternyata tetap rasional, selama kondisi psikisnya juga stabil dan itu bukan perkara yang mudah untuk dikendalikan, apalagi jika yang dimaksud adalah kondisi psikologi banyak manusia, komunal.

Bubble Lifecycle Graphic
Kasus gelembung ekonomi bisa terjadi karena para pelaku pasar, para manusia yang sebenarnya adalah makhluk- makhluk yang lebih dominan sisi psikis daripada kognitifnya (rasio). Sisi- sisi dasar psikis manusia yang sering digunakan sebagai “tombol ajaib”, untuk membuat pasar dinamis adalah: rasa takut dan harapan masa depan lebih baik.
Komodifikasi rasa takut (fear) dan harapan (hope) akan selalu dimainkan oleh segelintir kecil manusia, untuk mengendalikan sebagian besar manusia lain, dalam kasus ini adalah untuk mengendalikan kondisi psikologis komunal pelaku pasar.
Investasi terbaik adalah kembali ke diri sendiri, yaitu untuk memiliki pengetahuan dan keahlian sebanyak yang kita bisa serta perlukan dan membaca perilaku sosial masyarakat tempat kita hidup sehingga mampu menentukan posisi, apakah akan mengikuti arus kebodohan massal, memperingatkan mereka, atau tidak ikut sama sekali dan tidak terlibat dalam penanggukan keuntungan, ataupun kerugian besar, dalam waktu sekejap.
Di kasus semacam inilah kapitalisasi informasi menemukan nilai transaksional yang bisa dikalkulasi dan divaluasi, bukan sekedar jargon- jargon kosong tentang abad informasi, yang kadang justru susah dipahami publik awam.
Tulip mania di Belanda (1646), ikan mujair jenis Lohan, cicak besar si Tokek, tanaman semak Anthurium, dan gelembung saham lainnya adalah contoh tipikal dari gelembung spekulasi. Di Jepang, penggelembungan harga aset terjadi pada akhir 1980-an.
Bahkan krisis ekonomi di Amerika Serikat yang dimulai tahun 2008 lalu juga diawali oleh economic bubble, dimana rakyatnya mempunyai daya beli yang tinggi serta suku bunga yang tinggi, hingga akhirnya tak lagi mampu membayar kredit apapun, termasuk kredit rumah yang tak terkira jumlahnya.
Tautan jurnal tentang Tulip mania 1636-1637 dapat anda unduh sebagai bahan perbandingan dan study (format PDF): University of Chicago JSTOR, UCLA , Maurits van Der Veen, University of Georgia, Scott Nicholson
Beberapa kasus krisis ekonomi yang berawal dari Economic Bubble atau Gelembung Ekonomi lainnya:
  • Tulip mania (berpuncak pada Februari 1637)
  • The South Sea Company (1720)
  • Mississippi Company (1720)
  • Spekulasi saham kereta api Inggris (1840-an)
  • Spekulasi tanah di Florida 1920-an (1925)
  • Gelembung ekonomi Amerika 1920-an (Roaring Twenties), (sekitar 1922-1929)
  • Nifty Fifty, akhir 1960-an dan awal 1970-an
  • Spekulasi saham Poseidon, awal 1970-an
  • Penggelembungan harga aset di Jepang (1986-1990)
  • Krisis finansial Asia 1997
  • Gelembung dot-com (1995–2000)
  • Gelembung perumahan Amerika Serikat (2005-2008)
Potensi Gelembung Ekonomi
Kalangan pengusaha dan pelaku ekonomi di tanah air mendapat warning penting pertengahan Mei 2013 lalu dari Wakil Presiden Boediono. Saat membuka World Ceramic Tiles Forum di Hotel Sultan, Jakarta, Rabu (30/6/13), wapres mengingatkan pelaku ekonomi tentang kemungkinan terjadinya ’’gelembung ekonomi’’.
Selama ini, ahli ekonomi menggunakan istilah ’’gelembung’’ untuk menyebut fenomena peningkatan harga aset secara ekstrem berdasar harapan kenaikannya pada masa depan tanpa dukungan fundamental ekonomi kuat.
Secara akademis, gelembung ekonomi, spekulatif, atau keuangan juga sering diartikan sebagai ’’perdagangan dalam volume besar dengan harga yang sangat berbeda dengan nilai intrinsiknya’’.
Dalam konteks negara, kebijakan yang terlalu mengejar pertumbuhan jangka pendek dan melupakan jangka menengah hingga panjang bisa menimbulkan gelembung ekonomi.



Dengan begitu, dalam mengambil kebijakan ekonomi makro, pemerintah akan mengarahkan kepada upaya menghindari terjadinya kenaikan harga barang secara tidak rasional.
Perekonomian Indonesia pada 2010 lalu memang sama sekali tidak mengindikasikan gejala ke arah adanya penggelembungan.
Pertumbuhan ekspor dan investasi di sektor riil meningkat dan mampu mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun 2013. Belum lagi pertumbuhan kredit dan penempatan dana masyarakat di perbankan juga meningkat pesat.
Namun, mencermati peringatan wapres yang juga memiliki kapasitas tak diragukan di bidang ekonomi moneter sangatlah penting. Apalagi, belakangan diketahui gelembung ekonomi dapat muncul setiap saat, tanpa didahului terjadinya ketidakpastian harga dan aksi spekulasi.
Fenomena globalisasi membuat krisis ekonomi di suatu negara langsung menciptakan ancaman krisis serupa di seluruh negara di dunia. Setelah krisis finansial global 2008 yang berawal dari Amerika Serikat, dunia kini dibayangi dampak krisis baru akibat terguncangnya perekonomian Yunani.
Jika penyebaran dampak krisis Yunani juga tak bisa dicegah, virusnya bisa mengglobal. Akibatnya, semua negara kini mengelola perekonomian masing-masing dengan penuh hati-hati.
Apa yang disampaikan Boediono merupakan bagian dari kehati-hatian tersebut. Peringatan itu juga sebagai isyarat agar kita tidak mudah terlena dengan indikasi ekonomi makro yang gemilang. Namun sesungguhnya keropos di dalam.

krisis moneter eropa

Kenyataan bahwa penyumbang terbesar pertumbuhan ekonomi Indonesia adalah konsumsi masyarakat, sebuah aset berharga yang harus terus dijaga. Caranya, segala upaya kebijakan ekonomi harus fokus pada pertumbuhan sektor riil. Tak hanya pertumbuhan di sektor keuangan, perbankan, saham, dan sektor finansial yang terbukti beberapa kali semu serta gampang menipu.
ADB Ingatkan Indonesia Waspadai Gelembung Ekonomi
Bank Pembangunan Asia (ADB) mengatakan peningkatan arus modal pada pasar obligasi lokal di beberapa negara berkembang Asia Timur dapat mendorong risiko terjadinya gelembung (bubble), walaupun hal tersebut menunjukkan adanya minat investor terhadap kawasan ini.
“Kawasan ini lebih tangguh dibandingkan dulu, namun pemerintah harus berhati-hati terhadap pembalikan arus modal yang dapat menyebabkan bubble, apabila perekonomian di AS dan Eropa mulai membaik,” ujar Ekonom Senior ADB untuk Integrasi Ekonomi Regional, Thiam Hee Ng, dalam keterangan pers tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (18/3/13).
Sejak 1990, investor swasta telah menanamkan modal di kawasan Asia Timur karena suku bunga rendah dan pertumbuhan ekonomi yang melambat di negara maju. Kondisi tersebut makin meningkat hingga akhir tahun 2012 lalu.
Kawasan negara berkembang di Asia Timur dalam laporan ini mencakup Indonesia, China, Hong Kong, Korea Selatan, Malaysia, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.
ADB mencatat pada akhir 2012, pasar obligasi di negara Asia Timur mencakup dana senilai 6,5 triliun dolar AS atau lebih tinggi bila dibandingkan dengan periode yang sama pada 2011 yang hanya tercatat 5,7 triliun dolar AS.
Situasi tersebut menunjukkan adanya peningkatan sebesar 12,1%. Hal yang sama terlihat dari pasar obligasi korporasi yang mengalami peningkatan hingga 18,6% atau sebesar 2,3 triliun dolar AS.

 

Contoh kondisi di pasar obligasi Indonesia, di mana kepemilikan obligasi pemerintah sebesar 33% dikuasai investor luar negeri hingga akhir 2012.
Bandingkan dengan kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Malaysia yang mencapai 28,5% pada akhir September 2012.
Pasar obligasi lokal Indonesia meningkat pada triwulan IV 2012 sebesar 9,7% bila dibandingkan dengan kondisi tahun lalu atau meningkat 3,3% dibandingkan akhir September 2012. Sedangkan obligasi korporasi Indonesia meningkat hingga 19 miliar dolar AS dan obligasi pemerintah mencapai 92 miliar dolar AS.
Pasar obligasi pemerintah tumbuh 6,6% year on year karena penerbitan Surat Perbendaharaan Negara (SPN), treasury bill dan Surat Utang Negara (SUN). Penerbitan obligasi korporasi bahkan meningkat lebih tinggi 27,6%.
Waspadai Bubble Ekonomi Indonesia!
Pengamat ekonomi, yang juga pendiri CReco Research Institute, M Chatib Basri, mengingatkan Pemerintah Indonesia akan terjadinya imbas gelembung pertumbuhan ekonomi yang semu (bubble economy) dengan mengalirnya dana masuk ke Indonesia sebagai dampak kenaikan pagu utang Pemerintah AS sebesar 1,2 triliun dollar AS.
Sebab, dana yang mengalir deras ke pasar uang, pasar modal, dan perbankan Indonesia harus bisa diserap untuk menggerakkan sektor riil dan investasi jangka panjang. Jangan hanya bertengger di pasar uang, pasar modal, atau bank belaka.


Jebakan Gelembung Finansial, oleh Muhammad Chatib Basri.
“Kalau hanya numpang di situ saja, itulah yang menyebabkan peningkatan bubble economy,” tandas Muhammad Chatib Basri Selasa (2/8/2011) yang akhirnya dilantik oleh Presiden SBY sebagai menteri keuangan pada 20 Mei 2013 lalu menggantikan Agus Martowardojo yang dicopot dari jabatannya karena terpilih menjadi Gubernur Bank Indonesia.
SBY melihat sosok Chatib sebagai seorang ekonom yang memiliki pengalaman dan penugasan yang luas. SBY juga memuji prestasi Chatib selama memimpin BKPM (Badan Koordinasi Penanaman Modal) dalam setahun terakhir.


Muhammad Chatib Basri (Menteri Keuangan)
“Investasi di Indonesia tumbuh secara signifikan, ini sangat penting kontributor di kala ekspor kita dan ekspor negara-negara lain mengalami kemerosotan,” puji SBY.
Chatib Basri pernah bertugas sebagai stafsus menteri keuangan, sebagai deputi menkeu untuk tugas-tugas di G20. Sebelum dipercaya menjabat sebagai Kepala BKPM, Chatib menjabat sebagai wakil ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN).
Menurut Chatib, Indonesia memang bisa mendapatkan dana murah untuk pendanaan jangka panjangnya. Namun, apakah bisa diserap secara optimal?
“Syaratnya, pemerintah juga harus segera membangun infrastruktur jalan, jembatan, dan pelabuhan agar investor mau mengeluarkan dananya untuk investasi jangka panjang ataupun foreign direct invesment (FDI). Tanpa mewujudkan itu, yang terjadi cuma bubble. Itulah risiko yang harus diwaspadai,” kata M. Chatib Basri.
Gelembung atau “‘pertumbuhan ekonomi yang semu’” akibat masuknya dana asing justru akan meningkat jika dana tersebut tak bisa untuk menggerakkan sektor riil. “Karena itu, pemerintah harus segera merealisasi regulasi yang belum ada, seperti RUU Pertanahan, pembebasan lahan, dan koordinasi yang semakin baik serta perbaikan iklim investasi,” kata Chatib mengingatkan.
Hutang AS Yang Tak Mampu Dibayar Masih Merupakan Ancaman Ekonomi Global!
Amerika Serikat hampir pasti lolos gagal bayar (default) setelah DPR mereka menyetujui kesepakatan peningkatan batas utang pemerintah federal, sejak tahun 2011. Meski begitu, para kreditor AS menilai, utang AS yang menggunung dan dollar yang terlalu dominan masih tetap mengancam ekonomi global.

“Humans are the only species that pay to live on the Earth... Our money is fake. Our debt is fake. Our two party system is fake. Our healthcare system is fake. Most of the stuff we've been told is fake. Once you realize this, what you've thought of as reality begins to look like a cheap set on some ridiculous B movie.”
“Humans are the only species that pay to live on the Earth… Our money is fake. Our debt is fake. Our two party system is fake. Our healthcare system is fake. Most of the stuff we’ve been told is fake. Once you realize this, what you’ve thought of as reality begins to look like a cheap set on some ridiculous B movie.”
NSalah satu kreditor terbesar yang khawatir dengan kemampuan AS dalam membayar utang adalah China. Surat kabar utama di China, People’s Daily, mengatakan, kredibilitas obligasi Pemerintah AS sudah hancur sejak krisis sub-prime mortgage.
Namun, kebanyakan negara lain di dunia belum bisa menemukan cara untuk melepaskan ketergantungan pada dollar.
“Meski kepercayaan pada utang AS turun dan lembaga rating akan menurunkan rating AS, kredibilitas dasar tidak berubah. Dollar tetap menjadi mata uang yang kuat,” kata surat kabar itu.
Tapi memang realita yang telah terjadi sesungguhnya terbukti, bahwa semua produk dunia didominasi dan dijual belikan dengan patokan mata uang dollar Amerika.
Memang itu yang diinginkan oleh para elit dunia, agar perekonomian selalu berada dan tergantung dengan dollar Amerika. Jangan macam-macam jika ada negara atau pemimpin negara di dunia ini yang tidak menggunakan dollar Amerika, mereka akan dikucilkan di dunia perekonomian secara global, dulu mirip Libya dan Irak, sekarang ini mirip Iran dan Korea Utara.
they dont want to use dollar 
Dengan adanya ketergantungan dunia terhadap dollar Amerika, maka para elite dunia akan dapat lebih mudah mengontrol perekonomian dan keuangan dunia. Maka dengan mudah pula dapat mengontrol manusianya, bahkan rakyat didalam suatu atau beberapa negara lainnya untuk dapat menentang pemerintahannya akibat krisis berkepanjangan dan menyusahkan kehidupan rakyatnya. Padahal apa yang terjadi di negara tersebut adalah akibat “kebijaksanaan” AS dan negara-negara sekutunya sendiri.
Negara mana yang akan makmur, negara mana yang akan bangkrut, negara mana yang akan krisis, negara mana yang akan tergantung dengan ekonomi negara lainnya, dan pengontrollan-pengontrollan perekonomian sejenisnya secara praktis dapat dirancanakan dan direalisasi.
Jangan pula kita pikir bahwa Amerika dan Eropa terkena krisis berkepanjangan artinya para elite mereka juga terkena dampaknya, tidak! Para elit jauh-jauh sangat kaya, apapun krisisnya, bagaimanapun level krisis tersebut, mereka tetap kaya dengan cadangan emas jutaan ton dari hasil pertambangannya seantero dunia, hanya ditukar dengan kertas, emas dibeli (baca: ditukar) dengan kertas.
bilderberg elite cycles
Yang terkena krisis di Eropa dan Amerika Serikat, sejatinya adalah rakyatnya, bukan para elitenya. Namun pemerintahan rezim monarki dan kapitalis AS justru menaikkan pajak rakyatnya dengan alasan untuk membayar hutang negara, yang padahal hutang tersebut dapat dibayar sendiri oleh mereka, para elite pengatur negara dan rakyatnya.
Zhu Baoliang, kepala ekonom di lembaga pemerintah State Information Centre, mengatakan, pengurangan belanja AS sebesar 1 triliun dollar AS selama 10 tahun ke depan tidak cukup untuk mencegah krisis utang pada masa yang akan datang. “Gagal bayar AS tidak akan berdampak langsung terhadap China. Tapi, dampaknya akan terlihat pada jangka panjang,” katanya seperti dikutip China Daily.

Vladimir Putin
Sedangkan Li Xiangyang, seorang peneliti di Akademi Ilmu Sosial China, mengatakan, politisi AS pada masa depan bisa mengabaikan kepentingan kreditor dan lebih mengutamakan kebijakan dalam negeri.
Menurut Li, untuk menghindari perangkap dollar AS, China harus menghentikan investasi dalam aset dollar pada masa depan. Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin juga melihat ancaman serupa.
“AS sudah tak terkendali dan menumpahkan sebagian beban masalah ke ekonomi dunia. AS hidup sebagai parasit dari ekonomi global dan monopoli dollar,” ujar Vladimir Putin.
Putin, yang sering mengkritik kebijakan nilai tukar AS, mencatat, Rusia memegang obligasi dan treasury notes AS dalam jumlah besar. “Jika di Amerika ada masalah sistemik, akan mempengaruhi semua orang.
Negara seperti China dan Rusia menyimpan cadangan devisa dalam jumlah besar di surat berharga Amerika. Seharusnya ada mata uang lain sebagai cadangan devisa,” ujarnya. (sumber: wikipedia/ radarlampung/ antara/ maxheartwood.wordpress/ kompas/ kontan.coid/ berbagai sumber)

henry ford quotes

“Merupakan hal yang cukup bagus bahwa masyarakat tidak mengetahui sistim perbankan dan moneter, karena jika mereka mengetahuinya, saya yakin akan ada revolusi sebelum terbitnya fajar.”
- Henry Ford.

Sumber : indocropcircles
***

Tags

Translate

Ipaluni Atevet Bulldozer Headline Animator

Jam

Total Tayangan Halaman

Sitemap